Be a supermom!

 

Melihat judul diatas, apakah saya termasuk supermom? Jawabannya? Tidak! Saya manusia biasa. Saya wanita dan ibu rumah tangga biasa.

Saya juga pernah mengalami masa up and down sebagai ibu, terutama peran sebagai new mom ketika Shadiq lahir ke dunia. Dan saya tidak mau berpura-pura saya kuat, saya baik-baik saja, disaat saya merasa saya tidak mampu mengendalikan diri saya.

Lalu? Saya harus berbagi. Berbagi perasaan, berbagi keresahan, berbagi kecemasan kepada orang-orang terdekat yang saya percayai, yaitu suami saya. Saya juga berbagi perasaan sedih dan lelah saya lewat doa kepada sang Pencipta. Bagi saya, menjadi supermom dengan berusaha melakukan semua pekerjaan dalam rumah tangga sendirian tanpa bantuan keluarga ataupun asisten rumah tangga adalah hal yang mustahil, terutama dalam kondisi-kondisi tertentu dimana kita juga membutuhkan istirahat penuh dan me time sejenak dari rutinitas mengasuh dan merawat bayi. Pasca operasi sesar misalnya, tentu butuh usaha keras untuk bisa berjalan, menggendong dan merawat anak sendirian. Memaksakan diri melakukan pekerjaan rumah tangga sendirian setelah operasi sesar sama saja dengan bunuh diri! Sangat membahayakan kesehatan mengingat bekas luka jahitan yang belum benar- benar kering dan harus dipaksa untuk mencuci dan menyetrika misalnya. Begitupun saat menyusui. Menyusui itu kerja keras, apalagi newborn yang harus disusui setiap 2 atau 3 jam. Jika tidak dibantu suami sebagai partner dalam menyusui, tentu ASI tak kan bisa lancar. Jikapun tubuh terlalu lelah dan fikiran stress maka ASI juga akan sulit keluar, maka menjaga kewarasan dan mood saat menyusui sangatlah penting. Dengan cara bagaimana? Be happy! Jadilah ibu yang bahagia, lakukan apa yang ibu sukai, berpikiran positif, makanlah yang membuat hati gembira, bersyukur dan berdoa, maka hormon oksitosin akan bekerja dengan sendirinya dan ASI akan mengucur deras.

Menjadi supermom itu bukan impian saya. Saya tak mau memaksakan diri agar rumah selalu bersih dan rapi, jika saya lelah, maka saya berhenti sejenak dan beristirahat. Tak peduli saat itu cucian baju menggunung, piring kotor menumpuk, baju belum disetrika dan belum sempat masak. Saya ikut tidur jika bayi saya tidur. Saya tidak mau jadi ibu yang clean freak, yang selalu senewen melihat lantai yang berserakan mainan dan cerewet saat dapur masih terdapat sisa-sisa bahan masakan yang belum dibereskan. Saya kerjakan apa yang saya mampu, saya kerjakan satu persatu, bukan sekaligus. Menurut saya lantai berserakan mainan itu bagus, tandanya bayi saya aktif bermain dan gembira menjelajah seluruh ruangan di rumah. Perlahan saya akan melibatkan si kecil untuk ikut membereskan mainannya, juga ikut membantu pekerjaan rumah tangga sebisanya, sesuai tahapan usianya. Pun jika saya tak sempat masak karena si kecil rewel tidak mau ditinggal, maka saya baru akan memasak saat suami saya pulang. Suami saya akan marah? Tidak. Dia sangat memahami bahwa saat ini kami tidak memiliki asisten rumah tangga maupun pengasuh yang membantu saya di rumah ,maka jika rumah sedikit berantakan, dia tak pernah protes, yang penting untuk urusan membuatkan makanan si kecil, menyuapi dan memandikan si kecil sudah saya lakukan. Bahkan suami tak segan ikut membantu saya membantu pekerjaan rumah tangga, saya memasak, dia membantu menjaga Shadiaq, saya mencuci piring, suami memasak nasi, saya mensterilkan peralatan makan si bayi, dia mencucikan baju (saya tak kuat lagi mencuci pasca caesar dan kami belum punya mesin cuci), saya hanya mencuci pakaian si bayi saja. Suami juga mau membantu menyetrika dan membersihkan kamar mandi. Jika kami lelah, ya kami laundry saja, kalau ga sanggup masak ya beli saja atau go food in aja… Hehe, hidup dibikin simpel aja, gak usah ribet. Zaman sekarang ini, peran suami bukan cuma pencari nafkah tapi juga partner istri dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan ikut serta mengasuh anak. Kamu ngerasa aneh? Berarti kamu yang kuno! Saling bekerja sama antar suami dan istri membuat ikatan rumah tangga makin erat. Kalau suami gak mau bantu? Yah, diomongin berdua, diskusi, utarakan isi hati, jangan sok jadi supermom tapi dalam hati dongkol ya, hehehe. Mungkin saja suami tak mau membantu karena dia merasa kamu bisa semuanya dan gak mau dibantu! Nah, itu dia! Satu lagi poinnya, kalau sudah dibantu suami, jangan suka kritik hasil kerjaannnya, tapi puji dan hargai, so suami akan ikut senang dan bakal sering-sering bantuin. Easy, right?

Saya suka salut sama ibu yang bisa menjalankan peran sebagai working mom yang bekerja penuh diluar tapi masih mampu meluangkan waktu untuk anak-anaknya. Saya belum tentu mampu. Belum lagi harus pumping setiap hari di kantor bahkan tengah malam buta untuk stok ASI anaknya. Jujur, saya gak sanggup jadi mama perah, direct breastfeeding saja sudah cukup melelahkan buat saya. Saya hanya pumping sampai Shadiq 6 bulan, meskipun gak bekerja di kantor lagi, saya stok ASIP di freezer untuk berjaga-jaga saja, jika saya ada keperluan mendadak, namun Shadiq tidak mau minum ASIP beku, maunya menyusu langsung. ASIP segar yang diperah hari itu pun hanya mau sampai usia 2 bulan. Akhirnya stok-stok ASIP itu banyak yang terbuang, namun ada pula yang sempat saya donorkan ke seorang bayi laki-laki dan saya masih berhubungan baik dengan si ibu meski sudah tidak mendonorkan asi lagi. Sekarang saya sudah tidak pumping lagi. Tidak stok ASIP lagi. Insha Allah ASI saya selalu cukup buat Shadiq.

Supermom itu buat saya satu, saat anak saya sakit, maka disitu kekuatan saya diuji. Saya harus kuat dan gak boleh terlihat sedih didepannya. Saya harus tetap ceria dan menguatkan si kecil saat ia sakit. Saya selalu bilang dalam hati kecil saya supaya Allah menguatkan fisik saya dalam merawat Shadiq dan Allah tahu kapasitas saya, dan ia amanahkan seorang anak yang sehat dan jarang sekali sakit,  Masya allah, Tabarakallah. Saat si kecil sakit, saya ga boleh sakit. Saya harus kuat saat menggendongnya berlama lama dan harus kuat begadang jika ia merasa gelisah saat tidur. Dan disitu saya merasa jadi supermom, hehehe.

Begitu kira-kira definisi supermom versi saya. Kalau ibu? Be happy mom is better than a supermom. Jadilah ibu yang bahagia, maka akan lahir anak-anak yang bahagia.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *