Belajar Menjadi Orang Tua

“Habisnya anak saya waktu bayi nangis terus sih!” Obrolan siang tadi dengan seorang tetangga masih membekas di hati saya. Terutama ketika ibu tersebut dengan entengnya bilang kalo anaknya dulu waktu masih umur seminggu langsung dikasih makan bubur karena nangis melulu! Miris. Dengan santainya bilang air tajin sama kualitas dengan ASI. Oh, my godness! Sedih hati saya memikirkan nasib bayi bayi yg dipaksa mencerna makanan sebelum waktunya, pun harus diberi susu formula dengan alasan yang menurut saya dibuat-buat (kecuali memang si ibu sakit parah sehingga tidak bisa memberi ASI) . Namanya juga masih bayi, ya tentu wajar jika bayi menangis karena itulah satu-satunya cara dia berkomunikasi. Menangis bisa karena popoknya basah, sedang sakit, sedang ingin digendong, ingin diperhatikan, atau bajunya tidak nyaman, jadi  jangan selalu mengartikan tangisan bayi itu pertanda ia lapar/haus.  Kalo tiba-tiba bayinya langsung ngomong, ntar kaget lo, hehee. Jadi orang tua itu memang gak ada sekolah formalnya, tidak ada aturan baku bagaimana mengasuh anak, mau tidak mau ya harus belajar kapan pun dan dimana pun. Ilmu pengetahuan khususnya parenting itu terus berkembang, sehingga update ilmu itu penting. Kenapa harus bertahan dengan teori-teori lama atau mitos mitos yang gak masuk akal tentang pola asuh kalo nantinya akan merugikan anak.

Sejujurnya saya adalah orang yang paling tidak percaya dengan mitos dan kepercayaan orang tua jaman doeloe. Sering dibilang keras kepala dan sok tahu, saya mah cuek. dan syukurnya saya diberi partner hidup (baca : suami) yang sependapat dengan saya.Contohnya waktu ibu saya menyuruh saya membawa gunting kecil di baju sewaktu hamil karena (katanya) supaya terhindar dari roh roh jahat, saya iya iyain aja tapi gak saya lakuin. Cukup baca ayat Qursy dan surah-surah pendek saja, saya percaya Allah lah sebaik baik Pelindung. Meskipun akhirnya ibu saya marah karena saya dianggap ngeyel, toh akhirnya nyerah juga karena hingga waktunya tiba bayi saya lahir dengan sehat dan sempurna. Alhamdulillah.

Juga ada sedikit kejadian lucu waktu aqiqahan bayi saya akan di oleskan madu pada bibirnya oleh ustadz. Saya dan suami menolak keras karena madu itu baru aman diberikan pada bayi di atas usia 12 bulan karena beresiko terkena bakteri botulism yaitu spora bakteria yang mungkin terkandung pada madu. Meskipun mungkin banyak tetangga yang hadir nyinyir lihat kami yang bisa bisanya menolak ucapan ustadz, kami tetap berpendirian teguh. Bayi kami hanya boleh minum ASI saja, tanpa tambahan apapun. Titik. Sudah susah payah kami menjaganya semenjak dari rumah sakit untuk tidak diberi susu tambahan apapun, masa sih harus hancur dalam sekejap karena pemberian madu. Akhirnya , madu pun tak jadi diberikan. Begitupun dengan pemberian jimat penangkal roh roh jahat yang biasanya dibuatkan kalung ke bayi, kami juga menolak. Terserah apa kata orang, kami hanya percaya pada Allah saja.

Begitupun teori-teori lama soal pengasuhan anak. Seperti membedong bayi dengan alasan agar kaki bayi lurus. Menurut yang kami baca, penggunaan bedong yang terlalu ketat malah akan menggangu perkembangan tulang kakinya. Penggunaan bedong boleh asal tidak terlalu ketat dan dengan tujuan menghangatkan bayi, bukan meluruskan kaki bayi. Maka bayi kami hanya 1,5 bulan dibedong, itupun tidak pernah ketat. Masih banyak lagi teori lama pengasuhan yang masih dilakukan orang tua. Katanya bayi yang sering digendong akan bau tangan. Apakah benar? Menurut buku Anti Panik Mengasuh Anak 0-3 tahun , menggendong itu sangat penting, karena dapat memperkuat hubungan antara orang tua dan bayi, menenangkan bayi dan membuat bayi merasa diperhatikan (p.36). Melalui menggendong, orang tua membangun ikatan emosional yang menjadi dasar hubungan dengan bayi pada tahap perkembangan selanjutnya (p37). Jadi istilah bau tangan itu hanyalah mitos.Makanya kami cuek aja, tetap rajin gendong bayi kami, meski kami akui memang lelah karena berat badannya terus bertambah, gakpapa asalkan bayi kami bisa merasakan kedekatan emosi dan kasih sayang orangtuanya.

Mengenai MPASAI yang diberikan terlalu dini, ternyata sebuah penelitian di Sumatera beberapa tahun lalu menemukan lebih dari 25% bayi mengalami susah buang air besar dan lebih dari 15% mengalami diare akibat pemberian makanan tambahan di bawah usia kurang enam bulan. , bayi yang diberikan makan sebelum usia 6 bulan. Ada yang salah kaprah tentang MPasi.

MPASI itu adalah makanan pendamping ASI tetapi bukan untuk menggantikan ASI. ASI tetaplah diberikan kapanpun bayi menginginkannya. Resiko memberikan Mpasi terlalu dini adalah berpeluang mengalami alergi makanan, obesitas, kuman-kuman lebih mudah masuk, dsb. Cukup fatal bukan?

Kesimpulannya adalah kembali kepada kita sebagai orang tua, apakah tetap bertahan dengan mitos mitos pengasuhan yang merugikan ataukah mau lebih membuka pikiran untuk kembali belajar, update ilmu pengetahuan, banyak membaca buku, menggali informasi terbaru, bertanya kepada ahlinya atau bergabung pada komunitas parenting. Saya juga bukan orang tua yang sempurna, masih baru sekali, masih belajar dan terus belajar. Yang terpenting adalah support orang terdekat untuk membantu pengasuhan anak, terutama suami dan keluarga dekat. Yuk, mari sama-sama belajar menjadi orang tua!

Sumber referensi
Anti Panik Mengasuh Anak 0-3 Tahun. 2017. Jakarta: Wahyu Media

Hindari memberi MPASI bayi terlalu dini. Ini akibat yang menimbulkan kondisi serius.
http://nakita.grid.id/read/027476/hindari-memberi-mpasi-bayi-terlalu-dini-ini-akibat-yang-menimbulkan-kondisi-serius?page=all