Berdamai dengan Emosi Ibu Ketika Anak Tantrum

Berdamai dengan emosi ibu itu perlu sekali. Kenapa? Karena setiap hari kita akan mengalami berbagai macam tantangan yang berbeda dalam tiap fase kehidupan seorang anak dan hal tersebut melibatkan berbagai macam emosi. Merasakan emosi itu wajar dan tidak apa-apa. Emosi itu juga ada yang positif lho, nah yang perlu dikelola adalah jika yang keluar adalah emosi negatif.

Saya mau cerita, beberapa bulan terakhir ini saya sedang bergulat dengan emosi saya sendiri sebagai seorang ibu. Si kecil yang di akhir bulan ini genap berusia 3 (tiga) tahun acap kali menguji kesabaran saya. Dia sering sekali tantrum tiap kali merasa marah dan kesal, seperti melempar barang di dekatnya, refleks memukul atau menendang ayah dan bundanya atau berguling guling juga berteriak dengan keras. Saya fikir tantrum akan selesai memasuki usia 3 (tiga) tahun tapi ternyata saya keliru. Saya yang termasuk golongan ibu zaman milenial ini merasa bahwa pengetahuan saya akan tantrum pada anak sudah cukup untuk mengatasinya, namun saat ini saya merasa ini lebih parah dari biasanya dan kadang saya ingin menyerah. Si kecil sudah mulai tantrum sejak usia 2 tahun, namun masih bisa dikendalikan. Memangnya apa yang saya lakukan saat anak tantrum kala itu? Berdasarkan pengalaman pribadi saya, beberapa hal yang saya lakukan ketika anak tantrum adalah kenali penyebabnya; Saya harus mengenali penyebab anak tantrum terlebih dahulu. Jika ia tantrum karena lapar atau haus misalnya, berikan ia makan dan minum dulu. Jika ia tantrum karena kelelahan maka gendong dia dulu, tenangkan ia dan ajak ia istirahat, atau bisa juga dengan memijatnya dengan oil aromaterapi. Jika ia tantrum karena keinginannya tidak dituruti, nah ini kasusnya kan beda. Jelaskan pada anak mengapa keinginannya ditolak. Jika tetap tantrum, maka kita biarkan dulu ia menyelesaikan tantrumnya semisal 5 sampai 10 menit. Huft lama ya? Saya juga merasa lama sekali terutama ketika emosi saya juga sedang kurang baik ketika itu. Harus bener-benar tebal telinga dengar teriakannya dan lihat dia guling-guling sambil menangis sampai selesai. Namun jika saya menyerah dan menuruti kemauannya, itu akan jadi senjata dia berikutnya, setiap keinginannya tidak dituruti maka si kecil akan mengulanginya lagi.

Lalu jika tangisnya sudah mereda, saya akan menawarkan apakah ia ingin dipeluk oleh saya. Jika ya, maka berikan sentuhan pada anak seperti pelukan sambil menepuk punggungnya lembut. Kemudian saya lalu memvalidasi perasaannya, seperti “Adek kesal ya karena tidak boleh main ini? ” atau “Adek marah ya karena tidak boleh keluar rumah?” Biarkan ia merasakan dan mengeluarkan semua emosi negatif dalam dirinya. Belajar memaknai apa itu marah, kesal, sedih dan belajar mengatasinya. Dengan memvalidasi perasaan si kecil, si kecil merasakan empati kita sebagai orangtuanya namun bukan berarti mengiyakan kemauannya. Lalu jelaskan dengan intonasi suara yang lemah lembut mengapa kita tidak mengiyakan kemauannya. Hal yang menjadi kesepakatan kami sebagai orangtua adalah boleh melarang atau tidak menuruti kemauan anak dengan catatan hal tersebut membahayakan dia ( contohnya main stop kontak atau main kompor), bermain hujan atau main air dengan kondisi dia sedang kurang sehat atau bermain dengan pisau tajam dsb. Jika permintaan si kecil dirasa membahayakan diri dan orang lain maka sebagai orangtua harus menolak keinginannya dengan tegas.

Namun, cara-cara yang biasa saya terapkan sejak si kecil berusia satu tahun ini mulai kurang efektif di usianya sekarang yg hampir tiga tahun. Jujur saya merasa sedih karena dulu si kecil bicaranya lembut dan tidak pernah berteriak, tidak pernah memukul atau menendang, juga kata-katanya selalu baik. Beda sekali dengan yang sekarang, emosinya meledak ledak dan lebih sering negatif, kalau marah ia akan langsung refleks memukul atau melempar. Ada masa dimana saya merasa kecewa dengan diri saya sendiri dan merasa gagal menjadi ibu. Saya kesal karena merasa tidak mampu mendidiknya dengan baik, karena apapun sikap anak saya saat ini sedikit banyak tentu ada andil saya dan suami. Karenanya saya berusaha mengintrospeksi diri saya, mungkin sikap saya selama ini salah ke anak saya, mungkin saya juga mudah sekali marah akhir-akhir ini bahkan karena hal sepele, bicara dengn nada keras sehingga si kecil pun meniru. Atau saya akhir-akhir ini merasa stres dengan masalah internal keluarga saya yang pada akhirnya aura negatif tersebut terbawa ke anak saya. Kemudian saya juga mengobservasi kembali penyebab tantrumnya. Apakah ia bosan di rumah terus menerus, karena sejak pandemi kami membatasi jalan-jalan si kecil, terutama tidak pergi ke tempat ramai seperti mall dan tempat umum lainnya. Mungkin rutinitas jalan di weekend yang dahulu selalu dinantikannya kini sudah jarang, seperti naik bus umum yang sangat disukainya dan naik choco train di mall, juga main dan piknik di taman sambil memberi makan rusa. Ataukah ini bentuk protesnya karena ia merasa kurang perhatian karena akhir-akhir ini ayahnya sibuk sekali bekerja dan selalu pulang malam dan pagi sudah berangkat? Aatau saya yang akhir-akhir ini sibuk dengan pikiran saya sendiri, merasa insecure, merasa stress karena pandemi? Jujur, saya stress banget gak bisa kemana mana, apalagi sehari-hari sebagai ibu rumah tangga kita berkutat dengan rutinitas yang sama dan kadang jenuh namun untuk jalan-jalan keluar juga tidak bisa sebebas dulu karena khawatir virus covid ini. Belum lagi setiap hari ada berita teman, kenalan, dan tetangga yang positif covid, ada yang sembuh namun ada pula yang meninggal. Rasa cemas yang datang bikin imun saya turun, asma kambuh dan flu di pagi hari atau malam hari. Ataukah pola asuh yang kami terapkan berbeda dengan pola asuh kakek dan neneknya turut mempengaruhi perilakunya yang mudah tantrum akhir-akhir ini? Seperti melarangnya menonton tv terus menerus atau makan dengan fokus, tidak disambi bermain dan nonton tv, yang menurut kakek dan neneknya tidak apa-apa. Sulit memang menerapkan pola asuh yang sejalan jika sudah beda generasi dan ada banyak kepala dalam satu rumah.

Hal yang membuat saya heran juga sampai saat ini ia belum selesai toilet training padahal awal-awal menerapkan toilet training di usia 2 tahun ia sudah hampir berhasil. Dia sudah mau bilang ke saya atau ayahnya setiap mau pipis atau pup namun mendadak di tengah jalan ia tak mau lagi bilang jika pipis atau pup, bahkan ada kami didekatnya ia tetap diam. Ada apa ini? Apa yang salah? Apa yg sudah kami lakukan? Adakah yang memarahinya saat ia pipis di celana atau ada yang membuatnya trauma? Sungguh kami harus mengintrospeksi diri untuk menumbuhkan kembali kesadaran si kecil dan membantunya meluluskan toilet training dengan sabar.

Lalu sebagai orangtua, terutama ibu bagaimana cara berdamai dengan emosi negatif ketika menghadapi anak yang sedang tantrum? Yang saya lakukan adalah tarik napas dalam-dalam dan berhitung 1-3, berusaha menenangkan diri dan tidak balas berteriak pada si kecil. Sungguh bukan hal yang mudah karena adakalanya saya kelepasan dan ikut emosi negatif. Jika masih marah biasanya saya berwudhu dan sholat. Lalu minum air putih dulu sambil istigfar. Jika ada ayahnya, saya serahkan si kecil ke ayahnya dulu supaya saya ‘Me time’ sebentar untuk menenangkan diri. Me time singkat seperti duduk tenang sambil minum teh hangat atau susu hangat atau apapun yang saya suka bisa meredakan amarah. Selain itu menulis atau journaling juga cukup membantu meredakan amarah. Seperti saya yang suka nulis di blog atau menulis di catatan pribadi. Dan yang terpenting lebih mendekatkan diri pada Allah dan mohon petunjuk Nya semoga bisa terus belajar menjadi orangtua yang amanah.

*Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi dan sebagai self reminder buat saya untuk bisa lebih bersabar dan berdamai dengan emosi saya sebagai ibu, terutama ketika anak tantrum.