Sharing is caring!

Kamu pernah dengar istilah generasi baby boomer, generasi X, Generasi Y, atau Generasi Z? Nah, sekarang muncul lagi generasi berikutnya, yaitu Generasi Alfa atau Alpha Generation. Buat yang masih bingung, mengenai berbagai generasi ini, maka bisa digambarkan sebagai berikut :

Beberapa generasi. Sumber foto : tirto.id

Nah, kamu ada di generasi yang mana? Saya berada di generasi Y atau generasi millenial yang sudah berstatus orangtua. Dan saya termasuk generasi Y yang telah melahirkan anak generasi Alfa, karena si kecil lahir di tahun 2017. Nah, apa sih generasi Alfa? Yuk, kita kenalan dengan gen Alfa ini agar kita tidak terlalu kaget melihat berbagai perubahan pola pikir , cita-cita, dan kondisi mereka yang mungkin berbeda dengan kita. Ingat y mom, beda generasi , beda pola asuh. Tidak bisa disamakan, kita sebagai orangtua yang harus belajar menghadapi perubahan.

Apa itu Generasi Alfa?

Menurut, Mark McCrindle, analis sosial-cum-demograf dari grup peneliti McCrindle,

Generasi Alfa adalah generasi yang lahir di antara tahun 2010 – 2024. Penamaan Alfa dibuat berdasarkan alfabet Yunani, dan sesuai alfabet, Alpha dipilih karena generasi yang lahir sebelumnya telah menggunakan nama Generasi Z. Sekitar 2,5 juta Generasi Alfa lahir setiap minggu di dunia dan jumlahnya akan mencapai 2 miliar pada 2025.

Lalu, apa ciri-ciri generasi Alfa ini?

Secara umum, yang terlihat dari generasi Alfa adalah mereka sangat akrab dengan perkembangan teknologi, khususnya gadget. Kemana-mana membawa smartphone dan dianggap generasi paling cerdas dibanding generasi sebelumnya.

generasi alfa
Gen Alfa sudah kenal teknologi sejak lahir.

Berikut dilansir dari situs www.parenting.co.id , inilah ciri-ciri generasi Alfa:

  • Sejak lahir mereka sudah hidup di dunia dengan perkembangan teknologi yang pesat. Gadget sudah menjadi bagian dari hidup mereka sepenuhnya. Mereka tumbuh dengan iPad di tangan, tidak bisa hidup tanpa smartphone, dan mampu mengoperasikan gadget hanya dengan mengenali tombol-tombolnya. Perubahan teknologi yang masif ini membuat anak Generasi Alfa sebagai generasi paling transformatif.
  • Generasi paling berpengaruh dalam kehidupan manusia. Dengan umur mereka yang masih sangat muda, mereka memengaruhi putaran ekonomi dunia. Menurut ahli strategi pemasaran, Christine Carter, generasi Alfa menghabiskan 18 juta dolar per tahun hanya untuk konsumsi mainan, pakaian, dan perangkat teknologi baru yang cuma ada di zaman ini.
  • Kemajuan teknologi yang pesat ini ke depannya akan memengaruhi mereka, mulai dari gaya belajar, materi yang dipelajari di sekolah, sampai dengan pergaulan mereka sehari-hari. Ruang dan waktu tidak lagi menjadi batasan, jarak semakin tidak berarti, pergaulan tidak lagi ditentukan dari faktor lokasi. Tidak heran, dari semua yang mereka dapatkan membuat Generasi Alfa ini menjadi lebih cerdas dibandingkan generasi-generasi sebelumnya.
generasi alfa
Sumber foto : tirto.id

Tantangan Bagi Orangtua Mendidik Anak Gen Alfa

generasi alfa, orang tua millenials
Orang tua millenials harus melek teknologi. Sumber foto : pexels.com

Karena dianggap paling cerdas dibanding generasi sebelumnya, maka ini menjadi tantangan bagi orangtua millenials untuk memenuhi keingintahuan mereka terhadap berbagai informasi yang tersebar di dunia maya. Orang tua juga harus melek teknologi agar tak tertinggal oleh anak-anak mereka sendiri, namun disisi lain konten negatif yang banyak berseliweran menjadi kekhawatiran para orang tua. Anak-anak gen Alfa yang sudah terbiasa dengan gadget, seolah tak perlu menanyakan lagi kepada orangtua atau guru mereka jika ingin mengetahui sesuatu hal, mereka cukup menekan tombol pada gadget dan bertanya pada mesin pencari. Disinilah peran orang tua millenials sangat penting, untuk mengontrol dan mengawasi mereka dalam mencari informasi yang tak selamanya dipenuhi hal-hal baik. Sebisa mungkin menemani mereka saat bermain gadget agar kita dapat memantau apa saja yang mereka lihat. Namun, ini agak sulit memang jika kedua orang tua millenial sama-sama bekerja di luar rumah dan tak memiliki waktu menemani anak seharian. Maka dari itu, yang pertama yang harus dilakukan adalah menetapkan rules atau aturan bermain gadget.

Tetapkan rules atau aturan bermain gadget. Sumber foto : fool.com

Ini dilakukan jika anak sudah bisa diajak diskusi dua arah kira berumur 3 tahun. Rules meliputi berapa jam sehari boleh bermain gadget misalnya atau hanya boleh bermain gadget di weekend. Ada baiknya juga, kita download saja film-film anak yang sudah kita filter isinya , dan ia hanya dibolehkan menonton film yang sudah kita download. Jika anak sudah paham rules dan konsekuensi hukuman jika melanggar, maka tidak khawatir tak bisa menemani si kecil bermain gadget. Namun jika anak masih 0-2 tahun lebih baik tidak memperkenalkan gadget terlebih dahulu. Perbanyak aktifitas positif dan temani anak-anak bermain akan jauh lebih baik bagi perkembangan fisik dan jiwanya ketimbang terpapar gadget terus menerus.

Bacakan si kecil buku baik untuk nutrisi otaknya. Sumber foto : pexels.com

Saya yang saat ini berstatus full time mom pun perlu banyak belajar mengurangi aktifitas bermain gadget ini. Cukup sulit memang karena generasi millenials seperti saya juga turut dimanjakan dengan gadget dari mulai pesan antar makanan, beli obat via web, belanja dari online shop, melihat resep masakan dari Instagram, bahkan aktifitas sebagai blogger juga mengharuskan saya membawa gadget kemana-mana. Saat ini yang bisa saya lakukan adalah saat makan dan bermain dengan anak, tidak membawa gadget . Hanya membuka gadget saat anak sudah tidur siang/malam. Tetap memperkenalkan gadget sebatas video call dengan kakek neneknya, juga untuk foto-foto keluarga saja. Kami usahakan membawa si kecil beraktifitas di luar (outdoor activities) saat weekend, dan jika di rumah saya dan ayahnya lebih mengutamakan bermain dengan si kecil, membacakan buku, atau ‘ngobrol’ alias mendengar dan menanggapi ocehannya meskipun masih belum jelas.Si kecil saat ini belum bisa diajak komunikasi dua arah, masih belajar bicara kata per kata, aturan rules belum bisa diterapkan, jadi sayalah yang harus pintar-pintar untuk mengalihkan si kecil dari gadget sebelum ia dua tahun.

Lakukan Outdoor activity bersama anak agar tak terpapar dengan gadget terus menerus. Sumber foto : pexels.com

Cara Mengasuh Generasi Alfa

Persiapkan anak menghadapi zamannya.

Tidak ada cara yang baku dalam mengasuh anak, begitupun generasi Alfa. Yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan si kecil menghadapi zamannya, zaman serba canggih, zaman serba gadget. Tidak mungkin terus menerus menyembunyikan gadget darinya, suatu saat ia akan bertanya dan mencari. Tetapkan aturan screen time memang penting, namun perkokoh dari dalam yaitu menumbuhkan fitrah keimanannya. Jika telah terbangun pondasi kokoh akan agamanya, ia akan bisa memilih sendiri mana yang baik baginya dan meninggalkan hal-hal negatif. Ajaklah anak berdialog sesering mungkin, menanyakan pendapatnya, menghargai pilihannya, dan pujilah ia seperlunya. Generasi Alfa adalah anak yang terbiasa dibekali segala  kemudahan mendapatkan informasi dan cenderung konsumtif sehingga memiliki daya juang yang rendah. Antisipasilah hal ini dengan menanamkan daya juang sejak kecil. Memperoleh sesuatu harus dengan berjuang, ada usaha yang dilakukan meskipun kecil. Jadilah orang tua yang tak hanya ‘hadir’ namun terlibat dalam setiap hari-harinya agar terbentuk generasi Alfa yang tangguh.

generasi alfa
Tak sekedar hadir namun terlibat dalam keseharian anak. Sumber foto : pexels.com

Referensi:

Cara mendidik anak generasi Alfa. http://www.parenting.co.id/balita/cara-mendidik-anak-generasi-alfa

Habis Milenial  dan Generasi Z, Terbitlah Generasi Alfa. https://tirto.id/habis-milenial-dan-generasi-z-terbitlah-generasi-alfa-

 

Sharing is caring!