Cerita Kehamilan #1 : Trauma tespack

Note:

Sebenarnya sudah lama banget ingin nulis cerita di blog tentang perjalanan kehamilan saya yang pertama ini namun selalu tertunda. Saya masih ragu-ragu apakah terlalu dini untuk menceritakannya berhubung masih beberapa minggu waktu itu dan masih penuh kekhawatiran mengenai janin yang masih sangat muda ini sehingga saya selalu berusaha menahan diri untuk menceritakannya kepada siapa-siapa kecuali keluarga dekat saja. Pun saya akhirnya cerita di blog karena kandungan saya saat ini sudah tiga bulan dan Insya Allah sudah kuat dibanding awal-awal kehamilan. Saya hanya ingin mendokumentasikan perjalanan kehamilan ini lewat tulisan agar anak saya bisa ikut membacanya suatu saat nanti. Bahwa betapa berharganya ia bagi kami dan sungguh ia adalah anugerah Allah SWT. yang tak terhingga. Cerita kehamilan ini akan saya buat berseri dan khusus di ceritakan di menu Cerita Kehamilan.

#Tanggal 25 Januari 2017

Merupakan hari spesial dalam hidup saya selain hari pernikahan saya.  Pagi itu, setelah sholat subuh badan saya terasa lelah sekali, lalu entah dorongan darimana saya bilang ke suami saya untuk testpack. Suami saya hanya tertawa-tawa,” Siap untuk  jadi ibu, dan siap juga kecewa jika hasilnya belum positif.” Saya bilang iya gakpapa. Dan suami saya mencelupkan alat test kehamilan ke urin yang sudah saya tampung, semntara saya tidur-tiduran di kasur.

Eh tiba-tiba suami saya bilang, “ Ini nengok hasilnya gimana ya? Kok garis dua?”

“ Ah, mana..mana?” Saya masih belum percaya. Karena beberapa kali testpack hasilnya hanya garis satu. Eh, ternyata bener. Dua garis dan gak samar. Saya kaget dan masih linglung. Saya memang sudah telat sekitar delapan hari tapi masih ogah-ogahan test kemarin-kemarin karena pernah pengalaman telat 14 hari malah hasilnya negatif, telat karena saya kecapekan saja.  Jadi saya agak trauma dengan namanya testpack. Bener-bener trauma dan gak pengen nyobain testpack. Haha.

“Bang, jadi adek hamil?” Saya dan suami berpelukan penuh rasa syukur. Saya tiba-tiba terharu dan menangis di pelukan suami saya. “ Ya, Allah terimakasih atas amanah yang Kau titipkan di rahim Hamba. Tolong kuatkan ya Allah. Sungguh kami sangat menantikan kehadiran seorang bayi setelah setahun lebih menanti.”  Suami saya karena excited lalu membuatkan saya jus tomat wortel karena saya bilang saya lapar. Hehehe…

Rencananya hari itu saya mau memeriksakan diri ke dokter kandungan dengan BPJS tapi karena kerja dan antriannya pasti lama untuk minta surat rujukan, saya dan suami memutuskan untuk memeriksakan diri ke praktek dokter kandungan saja di malam harinya. Atas saran dari seorang dokter umum yang baik hati  di klinik tempat saya biasa berobat, beliau merekomendasikan beberapa nama dokter kandungan. Selain itu beliau juga menyarankan saya supaya jangan terlalu capek dan stop minum obat apapun. Semoga hasilnya baik-baik saja ya Allah.  Alhamdulillah, semoga Engkau kuatkan janin ini di dalam perut hamba. Amin.

Save

Save

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *