FridayStory #1 : Precious Thing In My Life

YunitaSari.comFridayStory #1 kali ini ingin cerita : Bosan. Ya, beberapa hari ini saya merasa sangat bosan. Bosan dengan rutinitas pekerjaan yang itu-itu saja. Pagi, bangun lalu nyiapin sarapan buat suami sebelum berangkat kerja, lalu masak buat makan malam dan bekal ke kantor, cuci piring, dan cuci baju (kalau lagi gak malas ya, haha..biasanya laundry sih..)., lalu siap-siap mandi dan berangkat ke kantor. Pulang kantor udah malam, saya dan suami tertidur kecapekan. Begitu setiap hari.  Kadang-kadang berfikir, penginnya jadi ibu rumah tangga aja enak mungkin ya, habis masak dan beberes rumah bisa langsung bobo siang sambil nunggu suami pulang kerja. Tapi dipikir-pikir lagi takut bosan karena saat ini belum punya momongan.

Keluhan tentang bosan dan gak pengen bekerja, akhir-akhir ini jadi cerita utama saya ke suami sebelum tidur. Suami hanya mendengarkan celotehan saya, tanpa menyela. Memandang istrinya yang lagi curhat gak abis-abisnya.. Biasanya dia hanya diam dan tersenyum.  Lalu hanya berkata,

“ Terserah kamu saja, sayang. Abang cuma gak mau kamu bosan karena gak ada kegiatan di rumah. Lebih bagus lagi kalau kamu dirumah tapi tetap bisa bekerja yang menghasilkan uang. Kamu bisa tetap produktif, sayang.”  Setelah ngobrol panjang lebar, biasanya suami saya tertidur dengan nyenyak. Begitulah suami saya, selelah apapun dia akan tetap dapat tertidur dengan mudahnya, beda seperti saya, yang kalau lagi banyak fikiran, akan gelisah dalam tidur.

Malam-malam, saat terbangun karena ingin ke kamar mandi, saya lihatin wajah suami saya yang pulas. Damai sekali tidurnya. Diam-diam saya suka cium keningnya lembut sambil elus-elus rambutnya. Di dalam hati saya merasa amat bersyukur memilikinya. Suami saya yang sabar dan penyayang. Hampir tidak pernah marah dan selalu meminta tolong apapun ke istrinya dengan sopan dan lembut. Suami saya yang akan dengan senang hati membantu saya mencucikan piring,  mencucikan baju dan membantu menyetrika jika saya merasa kelelahan dan agak gak enak badan. Suami yang setiap pagi membuatkan saya air hangat campur lemon dan membangunkan saya untuk sholat Shubuh. Selalu tidak pernah komplain apapun hasil masakan saya, menghargai usaha saya dalam hal belajar memasak.

Akhirnya, saya menyadari, my hubby is precious thing in my life. Betapa Allah sangat menyayangi saya, ditengah segala kondisi keluarga kami yang mungkin belum ideal di sana sini (catatan : standar ideal kehidupan sebuah keluarga beda-beda ya..Jangan disamakan..:), Allah kirimkan pendamping yang berusaha sekuat tenaga mewujudkan kondisi ideal tersebut, sehingga segala kesulitan yang saya rasakan pun hilang. Alhamdulillah, kembali lagi kata “bersyukur”  harus saya panjatkan dalam setiap doa.  Untuk segala cintanya dan cinta-Mu , ya Allah. Terima kasih. I am grateful.

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *