Generasi 90’an

Tahu Cindy Cenora? Eno Lerian? Trio Kwek-Kwek dan Maisy “Idola Cilik”? Anak-anak generasi 90’an pasti tahu siapa mereka.  Generasi 90’an seperti saya ini termasuk beruntung ya, karena di zaman saya dulu banyak sekali penyanyi cilik bertaburan. Acara-acara musik anak-anak juga hampir memenuhi semua tayangan di televisi. Saya hidup di zaman tanpa gadget, tanpa internet, tanpa smartphone, namun bahagia dengan masa kecil saya. Saya masih ingat dulu saya ngefans sekali dengan penyanyi cilik Maisy, saking ngefansnya saya punya kasetnya, dan hafal lagu-lagunya. Lucu sekali deh kalau ingat masa kecil , saya joget-joget di ruang tamu sambil dengerin kaset dari tape jadul . Saya ingat liriknya , “Jumpa lagi….jumpa Maisy kembali,..” atau “ Jangan suka cubit-cubit…suka gangguin teman…ya..ya..ya,” dan mama papa hanya tertawa melihat tingkah pola saya. Betapa bahagianya saya, menikmati masa kecil di dunia anak-anak sesungguhnya.

Permainan anak-anak yang dulu saya sering mainkan adalah main petak umpet di halaman rumah dengan anak-anak tetangga, main bola kasti, dan main bulutangkis di sore hari. Bahkan tak jarang ikutan main bola kaki dengan abang saya dan teman-temannya, tapi karena kasihan, saya dibiarin buat nendang bola sampai gol, hehehe…  Imajinasi anak-anak generasi saya juga hebat, bisa menciptakan permainan  tanpa harus membeli mainan mahal-mahal, seperti permainan engklek yang cuma modal batu buat gambarin kotak-kotak di tanah dan uang logam buat nandain wilayah yang kita lompatin, main pecah piring (ada yang menyebut Benteng), Cuma modal pecahan batu atau kepingan asbes, bisa jadi permainan.  Dulu suatu sore , saya dan anak-anak tetangga ngumpul di halaman rumah saya, bingung mau main apa, tiba-tiba ngelihat tangga nganggur, eh entah ide dari mana tiba-tiba kepikiran buat main kereta api-kereta apian. Tangganya diturunin, nah setiap orang masuk di tangga itu dan berlagak sedang di dalam kereta api, ada yang jadi masinis. Lucu sekali.

permainan-tradisional-petak-umpet
Sumber Foto dari Kopi-Ireng.com

Generasi 90’an tanpa smartphone. Tidak masalah. Kami lebih sering ngobrol langsung, saling bertatapan muka. Kalaupun jika ada perlu, tinggal mendatangi rumahnya dan langsung bilang, “ Main yuk!” duluu banget permainan favorite adalah main monopoli, ular tangga, ludo adalah permainan yang rutin dilakukan hampir setiap hari. Kalau ada yang kalah akan mendapat hukuman, seperti dicoret pake spidol, disuruh jongkok dll. Tanpa saya sadari permainan yang kami lakukan di waktu kecil melatih kami untuk bersikap sportif, bersosialisasi, beradaptasi, memahami berbagai macam sifat dan karakter orang, dan  menjalin persahabatan tanpa pandang suku, agama dan ras.

Generasi 90’an tanpa internet. Tidak masalah. Kami lebih sering bermain di luar rumah, merasakan udara pagi yang segar (dulu belum banyak polusi udara) dan teriknya matahari siang. Ada teman masa kecil saya yang dulu suka ajak saya main ke pematang sawah, itu pengalaman yang menyenangkan. Di sana kami akan duduk di saung, makan pisang bakar yang diambil dari kebunnya dan membakar sendiri. Dengan teman saya ini juga, saya belajar membuat emping (saya dulu takjub dari buah melinjo kecil bisa jadi emping lebar yang digoreng panas-panas), belajar menimba sumur (di rumah saya menggunakan keran air),  dan saya juga baru tahu dari sedotan bekas bisa diubah jadi kerajinan tangan berbentuk bunga yang akan diuntai menjadi tirai. Dan banyak lagi.

emping-melinjo
Sumber Foto dari Kuninganasri.com

Masih banyak hal menyenangkan lainnya di masa kecil saya dan semua terpeta jelas di dalam memori. Dan betapa sedihnya melihat anak-anak jaman sekarang yang sudah berkutat dengan smartphone , bermain games tanpa henti, hingga banyak anak sekarang sudah berkacamata minus, dan menyanyikan lagu-lagu dewasa yang sebenarnya belum pantas mereka nyanyikan. Kamu generasi 90’an juga? Gimana masa kecil kamu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *