Sharing is caring!

 

Masih tentang operasi caesar. Setelah kemarin sempat sharing informasi tentang prosedur melahirkan caesar dengan menggunakan BPJS, sepertinya banyak yang butuh informasi tentang caesar ini ya, baiklah saya akan bahas lagi tentang operasi caesar. Nah, sekarang mau cerita tentang hal-hal yang harus diketahui menjelang dan saat operasi, kalau sempat saya bakal lanjut lagi ke pasca operasi dan tips-tips pemulihan pasca operasi. Semua yang saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi, bisa jadi berbeda untuk orang lain, namun kalo prosedur biasanya secara garis besarnya sama. Untuk info, saya melahirkan di rumah sakit swasta di Medan kemarin, Alhamdulillah rumah sakitnya bagus, fasilitasnya seperti kamar dan makanan juga oke meskipun bukan VIP namun bisa room-in dengan bayi.

Beberapa persiapan menjelang operasi caesar

1. Persiapan mental

Ini penting banget menurut saya. Agar mental kita siap menghadapi operasi caesar apalagi untuk pertama kalinya, harus banyak mencari informasi tentang operasi ini, lewat internet, buku juga konsultasi ke dokter. Semakin banyak kita tahu apa yang akan terjadi saat operasi, semakin kita siap menghadapi, juga mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan. Saya waktu menjelang operasi masih bisa tersenyum dan santai karena ya itu sudah tahu bakal diapain ntar di ruang operasi, malah mama saya yang lebih tegang, hehe.. Ingat ya, operasi caesar juga perjuangan hidup dan mati seorang ibu untuk melahirkan anaknya, seperti halnya persalinan normal, cuma metode nya saja yang berbeda. Resiko caesar juga banyak, namun tenang saja karena ada tim dokter nantinya yang akan siaga membantu kita. Jadi kalo ada yang nge-bully atau nyinyir saat kita bilang akan caesar, ya cuek aja, kita yang paling tahu kondisi kita bagaimana dan harus yakin kita kuat menjalaninya, karena sumber motivasi terbesar ya diri sendiri. Persiapan mental juga melingkupi doa dan beribadah, agar dipermudah oleh Allah, banyak-banyak curhat dan lebih dekat kepadaNya agar operasi berjalan lancar nantinya dan kamu serta bayi sehat dan selamat.

2. Dukungan suami

Dukungan suami berdampak besar loh bagi ibu. Dukungan suami bisa berupa memberi semngat pada ibu agar tetap kuat saat operasi, menyiapkan berkas-berkas rumah sakit,  menemani ibu menjalani operasi, namun sayangnya yang terakhir tak bisa saya dapatkan karena dokter tidak membolehkan suami saya masuk kedalam ruangan operasi, padahal jika diizinkan, suami saya siap ikut menemani. Pasca operasi pun suami selalu menemani saya sehingga saya lebih kuat dan tegar.

Dukungan suami sangat penting.

3. Persiapan fisik

Fisik juga tak kalah penting untuk mendukung kamu melakukan operasi. Itulah sebabnya, setiap ibu yang akan melahirkan caesar harus melakukan tes darah dan urine, juga dicek berat badannya dan kondisi fisik lainnya untuk memastikan kondisi kesehatannya dalam keadaan prima saat dilakukan operasi. Biasanya juga disuruh puasa oleh dokter menjelang operasi minimal 8 jam. Namun jangan lupa untuk tetap sahur ya agar nanti tidak kelaparan saat operasi. Minum air putih yang cukup agar tak dehidrasi.

Saat di ruang operasi

Dikamar tunggu, baju saya diganti dengan baju operasi, perhiasan semua dilepas, dan saya pun didorong ke ruang operasi. Didalam ruangan, perawat mencukur rambut kemaluan, karena walaupun tidak lahir dari vagina, ini akan tetap dilakukan, kamu bisa melakukannya sendiri dirumah, namun pengalaman kemarin walaupun sudah mencukur, tetap masih dibersihkan lagi oleh perawat. Saya di dudukkan di meja operasi,  saya disuruh memeluk bantal, lalu dibagian bawah tulang belakang saya disuntik spinal oleh dokter anestesi agar nanti saat operasi saya tidak merasakan sakit. Waktu itu dokter menyuruh agar perawat memegang tangan saya, mungkin khwatir saya tegang, nyatanya saya sudah ikhlas saja, dan prosesnya satu kali saja. Karena katanya kalo kita tegang, maka cairan biusnya sulit masuk dan yang ada jarum bisa patah karena tipissss banget. Makanya tenang saja ya saat disuntik, anggap saja seperti suntik biasa kalo kita lagi sakit. Rasanya juga gak sesakit yang saya bayangkan ko. Setelah diberi bius spinal, separuh badan dari perut kebawah mulai terasa kebas dan mati rasa, untuk angkat kaki saja tidak bisa. Sedangkan perut keatas masih bisa gerak-gerak. Dokter bilang tetap tenang ya dan jangan panik atau gelisah meskipun bisa bergerak, lebih baik tangannya diam saja.

Setelah itu, tim dokter memasang tirai diatas dada saya untuk memisahkan tangan dan pandangan saya dari area operasi yang steril. Saya masih tetap sadar, dan anehnya gak ngantuk. Saya coba tidur tapi gak bisa karena ruangannya memang dingin sekali. Yang bisa saya lakukan hanya berdoa, membaca shalawat dan istighfar memohon pertolongan Allah agar operasi ini lancar. Saya masih dengar sayup-sayup suara dokter bercakap-cakap di ruang operasi. Sekilas saya dengar, ” Dok, darahnya banyak sekali.” atau “Dok, coba digunting sedikit lagi.” Setelah 15 menit, saya merasakan guncangan diperut saya dan terdengar tangisan bayi, mendadak saya meneteskan air mata haru. Bayi saya diletakkan didada saya, sebelum akhirnya dibawa keluar untuk diobservasi.

Setelah itu, perut saya dijahit kembali oleh tim dokter. Dan tiba-tiba saya merasakan tubuh saya menggigil kedinginan, benar-benar kedinginan sampai gigi saya gemeletuk. “Dok, saya kedinginan. Masih lamakah dok?” Dokter bilang sabar sebentar lagi. Saya mulai gelisah, antara kedinginan, tidak sabar mau ketemu bayi saya, dan tidak sabar keluar dari ruang operasi. Dokter anestesi yang kasihan melihat saya memberikan sesuatu yang hangat untuk saya pegang, tapi tetap kedinginan. Saya sempat berandai kalo saja suami disini, mungkin saya akan lebih hangat dan tidak gelisah, hehe. Selama proses jahit, saya tetap bisa merasakan tarikan benang di perut saya namun tidak terasa apa-apa.Total saya diruangan operasi sekitar 45 menit, lebih lama dari dugaan saya.

Shadiq sesaat setelah lahir. Sumber foto : dokumentasi pribadi

Dipindahkan ke ruang Observasi

Setelah operasi selesai, saya dipindahkan sementara ke ruang observasi untuk memantau kondisi saya sebelum dipindahkan ke ruang rawat inap. Saya masih menggigil kedinginan dan diberi selimut listrik untuk menghangatkan tapi tetap saja dingin. Lucunya saya merasa amat lapar, pengin makan ini itu. Suami saya mungkin pengen ketawa lihat istrinya tapi gak tega, jadi perkataan saya semua diiyakan.

Saat di ruang observasi. Maafkan wajah saya yang berantakan.

Dipindahkan ke Ruang Rawat Inap

Setelah kondisi stabil, saya pun dipindahkan ke ruang rawat inap. Saat itu bius mulai memudar. Jangan ditanya sakitnya, amazing! Nyeri bekas jahitan mulai berasa, perawat pun menambahkan obat pereda rasa sakit lewat selang infus, awal-awal kayak gak berasa obat peredanya, tetap sakit, tapi lama-lama berkurang. Dan yang paling penting, kita dilarang mengangkat kepala sampai besok pagi. Jadi posisi kita tetap sama hingga pagi, untuk miring juga belum bisa ya. Makanya selama di rumah sakit, saya gak sempat pegang hp sama sekali, untuk berfoto-foto pun gak mood. Saya masih harus berdamai dengan rasa sakit. Dan ini penting loh buibu! Bersabar dan berdamai dengan nyeri pasca operasi. Apalagi saat itu belum boleh minum air putih, sementara saya benar-benar haus. Kateter masih dipasang dan pake pembalut nifas super panjang! Setelah buang angin, baru boleh minum sedikit demi sedikit dengan sendok. Saya sedikit menyesal sih kurang belajar healing tentang ini, dan mengeluh saat itu. Mungkin jika punya anak kedua harus lebih banyak belajar ya.

Sedikit Tips Bagi yang Caesar

Belajar dari pengalaman nih, tips dari saya sih lebih baik sebelum melahirkan caesar, kamu potong rambut pendek aja, karena beneran gerah melulu setelah lahiran! Padahal AC kamar rumah sakit sudah kencang tapi kok ya tetap gerah, apalagi kan kita menyusui, lebih ringkas aja kalo rambut pendek, meskipun saya berjilbab kalo pas ada tamu ngejenguk.

Bawa dry shampoo, beneran membantu banget karena seharian belum boleh turun ke kamar mandi, apalagi keramas ya, perut masih nyut-nyutan. Rambut biar gak lepek dan bau, dan praktis kan tinggal semprot.

Lalu tips lainnya, bawa cemilan yang banyak, bukan buat saya, karena habis operasi, makanannya masih dikontrol dokter, tapi buat suami yang jaga. Kasian kalo kelaperan saat nungguin kita dan kadang males turun. Apalagi saat itu suami kena flu batuk, kasian banget namun salut masih kuat nemenin saya meski pake masker. Yang ngejagain kita, kudu mesti diperhatiin kesehatannya juga karena capek juga ngurus kita, bawain vitamin, sari kurma, atau madu gak ada salahnya.

Bagi ibu untuk yang baru belajar menyusui,  jangan lupa bawa pompa asi, kantong asi ukuran kecil waktu ke rumah sakit . Untuk perlengkapan bayi yang harus dipersiapkan saat dirumah sakit baca disini ya!Selain itu rajinlah memijat payudara, kompres air hangat supaya asi segera keluar, minta suami pijat oksitosin dan jangan lewatkan kolostrum untuk diminum si bayi. Alhamdulillah, Shadiq sempat minum kolostrum di hari kedua.

Selain itu, kalau  mau lebih nyaman menyusui dan lebih tenang istirahatnya, pilih kamar vip atau yang gak terlalu banyak pasien. Ingat ya kalo masih baru operasi, untuk batuk dan tertawa pun harus ditahan, karena masih nyeri. Jadi, gak ada alesan sebenarnya kalau caesar itu gak bisa menyusui. Lebih baik menyusui bayi sambil duduk dengan bantuan bantal menyusui agar perut bekas operasi tidak tertekan. Dan yang terakhir rajinlah berlatih jalan setelah 24 jam agar tidak terjadi penggumpalan darah dan kamu bisa cepat pulih.

Kalau ditanya trauma gak operasi caesar? Gak sama sekali. Tapi itu semua tergantung kepada diri sendiri. Kalau kita yakin bahwa kita bisa melewati semuanya maka kita akan lebih kuat. Rasa takut itu wajar, asal jangan berlebihan. Bahkan seorang rekan saya yang berprofesi dokter pun merasakan takut saat masuk ruang operasi untuk melahirkan. Dokter yang sudah biasa wara-wari di rumah sakit pun bisa takut loh, jadi ketakutan itu manusiawi asalkan kita bisa mengontrolnya. Yakinlah semua bisa dilalui dengan baik, operasi lancar dan bayinya sehat. Cerita dong pengalaman kamu waktu caesar dan share di kolom komentar ya! Semoga cerita ini bermanfaat untuk calon ibu yang akan operasi caesar.

 

 

 

Sharing is caring!