Inilah Alasan Mengapa Budaya Antri itu Penting

Ide mengenai tulisan ini terinspirasi dari cerita pengalaman hari ini. Tadi pagi saya dan suami iseng-iseng ingin jalan-jalan naik kereta api Medan-Binjai . Perjalanan cukup menyenangkan dan penumpang pagi itu tidak terlalu ramai. Nah, saat perjalanan pulang balik ke Medan, kami berencana naik kereta api pukul 11.45 WIB, dan ternyata tiket habis! Penumpang KA banyak sekali dan banyak juga yang seperti kami yang kehabisan tiket. Akhirnya kami memutuskan untuk naik kereta api di jadwal selanjutnya yaitu 13.15 WIB. Lumayan lama sih nunggunya, tapi karena ngobrol-ngobrol dengan suami jadi gak terasa.

Saat kereta api datang, saya menemukan pemandangan yang sangat tidak menyenangkan yaitu berebut masuk ke dalam kereta api untuk mendapatkan tempat duduk lebih dulu, padahal penumpang di dalam kereta belum turun. Saya sebenarnya sudah sering melihat kejadian seperti ini dan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan orang-orang yang tidak mau mengantri untuk masuk ke dalam gerbong. Dan yang lebih tidak manusiawi adalah saat lansia ataupun difabel yang seharusnya dipersilakan naik atau turun lebih dahulu , malah ikut terkena imbas orang-orang yang gak mau antri. Hal yang sama terjadi saat saya dan suami akan turun di stasiun Medan, maka orang-orang yang akan naik berebut masuk, padahal belum pun kami turun. Kami sempat mengabadikan momen ini saat sudah berhasil turun dari kereta dengan hati dongkol melihat tingkah orang-orang yang gak sabaran antri.

antri-di-indonesia
Budaya Antri Orang Medan (Indonesia)

 

Betapa sulit budaya antri ini melekat di negeri kita tercinta, semua berebut ingin didahulukan, tidak ada yang sabar dan tertib menunggu giliran. Sangat berbeda dengan di Jepang, yang penduduknya sudah sangat terbiasa dengan antri. Jepang selalu menjadi contoh bagi negara-negara lain dalam menerapkan budaya antri. Jepang sangat menghormati hak orang lain dan mereka tidak pernah menyerobot saat mengantri di tempat umum, baik di kereta api, di pusat pusat perbelanjaan bahkan untuk masuk ke dalam bus pun mereka antri. Bahkan tanpa adanya pembatas khusus atau petugas yang mengatur antrian, mereka sudah bisa mengatur barisan lurus kebelakang. Itulah mengapa Jepang lebih maju dari negara kita. Antri bukan soal kecil semata, tapi menggambarkan karakter suatu bangsa. Bahwa mengedepankan moral, sopan santun dan etika adalah hal yang utama dibandingkan kepintaran semata.

antri-di-jepang
Budaya Antri Di Jepang

Kejadian seperti ini tidak hanya berlaku saat masuk ke dalam gerbong kereta api, namun saat di jalan raya. Banyak pengemudi di Medan yang tidak sabar menunggu lampu hijau, malah dengan seenaknya menerobos lampu merah dan melawan arah. Sungguh mengesalkan, bahwa mereka tidak menyadari bahwa tindakan mereka membahayakan keselamatan orang lain. Setiap berkendara di jalan raya, saya dan suami selalu berusaha berhati-hati karena tingkah pengemudi di jalan raya kota Medan ini ajaib dan tak terduga. Bisa tiba-tiba muncul di depan kita, memotong jalan tanpa memberitahu dengan tanda lampu apakah mau belok atau lurus, ada yang melawan arah, ada yang ngebut gak karuan, ada yang memasang lampu belok ke kiri eh ternyata belok ke kanan. Banyak-banyak berdoa agar selamat jika berkendara di Medan , hehehe.

Budaya antri hendaknya diajarkan sejak dini. Mengapa? Saya pernah membaca sebuah postingan yang menarik di media sosial tentang seorang guru di Australia yang mengatakan bahwa mereka lebih khawatir jika anak-anak didiknya tidak bisa mengantri daripada tidak bisa Matematika. Kenapa demikian?

  1. Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.
  2. Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.
  3. Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.

Lalu, apa sih manfaat mengantri bagi anak?

  1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
  2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.
  3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..
  4. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
  5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk MENGATASI KEBOSANAN saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
  6. Anak bisa BELAJAR BERSOSIALISASI menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
  7. Anak BELAJAR TABAH dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
  8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
  9. Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.
  10. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia MENYEROBOT ANTRIAN dan HAK ORANG LAIN.
  11. Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.
  12. Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain

Dan mungkin masih banyak manfaat lain. Sungguh miris rasanya melihat kenyataan bahwa di negara kita sebagian besar orangtua cenderung lebih mengutamakan anak-anaknya untuk pandai di semua mata pelajaran tapi mengesampingkan nlai moral dan etika sopan santun, bahkan tak jarang mereka menyuruh anak mereka untuk menerobos antrian juga. Apakah ini juga berpengaruh terhadap mental anak-anak bangsa yang semuanya serba ingin instan, serba cepat dan tidak mau susah payah dalam mencapai sesuatu sehingga menghalalkan segala cara?  Mari kita renungkan kembali!