Mempersiapkan Diri Menjadi Ibu

 

Mengapa Perlu Mempersiapkan Diri Menjadi Ibu?

Judul di atas mungkin terdengar aneh ya. Memangnya perlu? Mungkin jika saya belum menikah, belum punya anak dan tidak tertarik belajar parenting, saya juga gak bakalan tahu kalo ternyata mempersiapkan diri menjadi seorang ibu harus dilakukan sedini mungkin, bahkan sebelum menikah. Yup, saya sendiri juga sangat terlambat untuk belajar, padahal saya single lumayan lama, lol! Usia 26 tahun baru menikah. Selama itu saya ngapain aja? Ya, kerja, kerja, dan kerja!

Memang pada realitanya, kita tak pernah dipersiapkan oleh orang tua kita untuk menjadi seorang ibu padahal peran ibu adalah peran yang amat vital dalam membentuk sebuah peradaban umat manusia. Tentu peran ayah juga penting, ibarat sebuah sekolah, ibu menjadi guru bagi anak-anaknya dan ayah sebagai kepala sekolahnya, yang membentuk visi dan misi keluarga tersebut.

Ketika kita masih kecil, remaja, bahkan ketika memasuki jenjang kuliah, kita hanya disuruh orang tua untuk belajar, belajar dan belajar. Belajar yang diartikan disini sayangnya adalah konsep yang sempit, yaitu belajar terbatas hanya pada dinding-dinding sekolah dan pendidikan formal lainnya yang mengedepankan sertifikat dan ijazah sebagai legalitas sebuah keberhasilan pendidikan. Belajar yang kita tahu adalah duduk diam sambil menulis, membaca dan berhitung di kelas. Ikuti semua instruksi guru, tak perlu banyak bertanya , lalu jika mendapat nilai bagus, maka berarti kamu akan sukses. Nilai adalah satu-satunya indikator keberhasilan sekolah formal, padahal tidaklah demikian. Nilai memang penting tapi bukanlah segalanya. Karena sesungguhnya belajar bisa dimana saja. Semua yang kita lakukan adalah belajar, mulai dari bangun tidur hingga akhirnya tidur kembali, semua adalah proses belajar.

Practical life skill juga harusnya diajarkan kepada anak sejak dini, bukan hanya calistung belaka. Practical life skill yang dimaksud tak jauh-jauh dari keseharian kita, yaitu memasak, menyapu, mengepel, dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Memangnya penting belajar memasak dan beberes rumah? Ternyata penelitian terbaru yang pernah saya baca mengatakan bahwa anak yang terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, lebih fokus dalam belajar di sekolah, nilainya jauh lebih baik dari yang tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Dalam ilmu montessori, practical life skill di dapur contohnya, ternyata banyak sekali manfaatnya, seperti mengupas kulit telur dan mengiling serta mencetak adonan kue juga melatih keterampilan motorik anak.

Lalu, jika kita tak pernah mempersiapkan diri menjadi ibu, yang terjadi adalah….

Saat berumah tangga dan memiliki anak malah jadi shock, dan jadi uring-uringan. Mengerjakan pekerjaan rumah tangga juga males-malesan karena tidak terbiasa. Atau jatuhnya malah jadi kebingungan, gak tau mau mulai darimana, saat semua pekerjaan rumah menumpuk dan semuanya menuntut untuk segera dikerjakan. Belum lagi saat punya anak. Bener-bener menguji kesabaran kita. Karena itu, salah satu persiapan diri menjadi ibu adalah banyak-banyak stock sabar ya. Itu termasuk hal yang penting, karena memiliki bayi artinya kita siap untuk mencurahkan seluruh pikiran dan tenaga kita untuk mengurusnya selama 24 jam. Gak ada cuti, gak ada libur layaknya pekerjaan kantor. Jadi ibu harus siaga sepanjang waktu.

Apa saja yang mesti dipersiapkan?

Kembali pada persiapan menjadi seorang ibu, saya jadi terkenang kembali masa kecil, setiap saya ingin mencoba belajar memasak dan membantu ibu di dapur pasti dilarang, ” Sudah sana kamu belajar saja. Bikin PR sana. Biar Ibu saja yang masak.” Akhirnya karena selalu dilarang dan jika dapur berantakan setelah masak akan diomeli, otomatis saya jadi malas belajar masak. Dan keinginan saya belajar masak baru muncul setelah saya bekerja dan jadi anak kos. Apalagi setelah dapat kos yang dapurnya lumayan besar, wah rasanya girang sekali. Sejak itu mulai suka memasak dan coba-coba resep baru dan kebiasaan ini berlanjut setelah menikah. Terlambat memang, namun saya bersyukur karena masih mau belajar meskipun amatir. So, waktu udah nikah bagaimana? Bisa masak saja tentulah tidak cukup sebagai modal menjadi ibu. Dan jujur saya hanya suka memasak namun tak menyukai beberes rumah hahaha.. Karena itu, sedari kecil jarang terlibat dalam pekerjaan rumah tangga. Basic mama saya adalah pekerja kantoran dan sehari-hari kami dibantu ART untuk mencuci dan menyetrika.

Lalu bagaimana dengan mengurus anak? Tentu saja saya tidak tahu sampai saya memiliki anak sendiri. Saya tak punya adik dan tak pernah pula mengasuh anak saudara atau tetangga, apalagi bayi. Menggendong bayi pun saya tak pernah. So, jadinya ya bener-bener belajar dari nol bersama suami, kami belajar mengasuh anak. Jadi, alangkah baiknya jika para orang tua mengajarkan anak-anaknya untuk ikut terlibat mengasuh adik-adik yang lebih kecil, hingga tak canggung lagi saat mengasuh anak mereka kelak. Namun, jika tak punya adik, selain itu kamu bisa bertanya kepada orang yang sudah berpengalaman, atau sering mengikuti seminar parenting. Intinya tetap belajar meskipun terlambat. Saya juga terus belajar tentang parenting sembari mengasuh anak.

Selain hal-hal teknis, persiapan diri menjadi ibu juga mencakup persiapan mental. Ini hal tersulit bagi saya, yang terbiasa hanya mengurus diri sendiri, masih sering mementingkan ego, hanya tahu bekerja di kantor, dan berubah peran menjadi full time mom setelah punya anak, membawa perubahan besar dalam hidup saya. Being a mom is (never) easy. Why? Menjadi ibu berarti kita siap mendahulukan kebutuhan si kecil daripada kebutuhan pribadi kita. Belanja tas, sepatu dan baju dengan tren fashion terbaru mungkin akan tergantikan dengan berburu popok diskonan, belanja kebutuhan MPASI nya dan baju si kecil yang selalu bikin gemes pengen beli saking lucunya. Menjadi ibu berarti kita harus pandai-pandai untuk mengelola emosi dan pikiran kita agar tetap waras, meskipun dalam keadaan lelah dan banyak masalah. Seperti meme lucu yang sering bilang, belum jadi ibu kalo belum ditungguin di depan toilet oleh anak atau makan mie instan yang udah mengembang dan dingin karena nunggu anak bobo dulu baru makan, hehe.. Bener-benar menguji kesabaran lho. Menjadi ibu berarti siap untuk tidak jijik terhadap hal-hal kotor, karena saat punya anak nanti kita harus membersihkan pipis dan pup anak setiap hari saat ia belum bisa melakukannya sendiri. Selain itu, menjadi ibu berarti kita juga siap mengajarkan anak-anak tentang nilai-nilai kehidupan. Kita tak bisa bersikap seenaknya karena anak akan mencontoh perilaku kita.So, buat yang masih single, persiapkanlah dirimu mulai dari sekarang. Untuk yang sudah memiliki anak, mempersiapkan diri menjadi ibu juga termasuk tugas kita sebagai orang tua kini kepada anak perempuan sehingga ia tak melupakan kodratnya sebagai ibu ketika sudah menikah dan memiliki anak. Bagaimana? Siap untuk jadi ibu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *