Menuju 30 : Sebuah Renungan

 

Sumber foto : pexels.com

Menuju 30. Ya, sebentar lagi usia saya saya genap 30 tahun di 2019. Lalu kenapa? Gara-gara baca postikal artikel di blognya mbak Annisa Steviani tentang Scarry, the scarry adulthood , saya jadi termenung sendiri. Apakah saya mengalami hal yang sama? Mengalami rasa ketakutan dan tidak nyaman dengan diri sendiri bahkan untuk berfoto pun saya tidak pede. Lebih tepatnya merasa tidak pede berfoto sendiri sejak memiliki anak di akhir tahun 2017, apalagi mengupload foto diri di media sosial. Duh, gak banget!  Saya hanya suka memfoto makanan atau anak saya  dan posting tentang tumbuh kembangnya Awalnya saya fikir saya saja yang merasakan demikian, ternyata banyak wanita mengalami hal yang sama.

Sumber foto: pixabay.com

Sejak memiliki anak, waktu untuk diri sendiri alias ‘me time’ jauh berkurang. Apalagi saya benar-benar mengasuh sendiri tanpa bantuan nanny dan resign dari pekerjaan di akhir November 2017. Fokus kehidupan saya berubah. Yang awalnya hanya tahu kerja, kerja dan kerja  sekarang menjadi anak,anak lalu anak lagi. Biasanya mau pulang malam, karena ada lembur atau rapat, jalan kesana kemari, kini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Jujur, untuk perawatan diri di rumahpun gak sempat. Untuk maskeran wajah misalnya, harus kucing-kucingan dulu dengan si kecil, soalnya si kecil takut lihat wajah saya saat maskeran, wkwkwk… Kalau di petunjuk maskeran butuh waktu 15 menit, nah jika saya beruntung maka di menit ke 15 saya berhasil menyelesaikan maskeran saya, kalau tidak ya harus buru-buru cuci muka sebelum si kecil terbangun. Untuk perawatan di spa atau salon boro-boro deh. Karena tidak memiliki penghasilan tetap seperti dulu, saya harus pintar-pintar mensiasati agar uang belanja cukup sebulan. So, emak-emak harus ikhlas memotong anggaran perawatan diri dalam daftar bulanan  yang biasanya rutin saat masih kerja. Lucu ya ? dibikin lucu ya walau miris. Sekarang paling banter perawatan hanya sekitaran cuci muka pake facial wash lalu moisturizer, udahan deh. Kalau mau keluar sekedar jalan-jalan sama suami cuma ditambah bedak tabur dan compact plus lipstik. Lalu kemana perginya blush on, eye shadow, dan foundation, ucapkan bhay…. lalu lambaikan tangan. Itupun disuruh cepat-cepat.Sungguh sederhananya istrinyamu, Yah..Harusnya engkau bangga padaku. Please, tambah uang belanjanya ya. LOL.

Ya, karena sekarang males banget ngaca lama-lama. Ngerasa gak menarik. Wajahpun kusam, gak secerah dulu. Dan terlihatlah kerut-kerut halus di sekitar dahi, bekas-bekas jerawat di pipi dan kulit yang terasa berkurang kelembabannya. Kasar saat disentuh. Apakah ini tanda-tanda penuaan? Ooh, tidak! Saya belum siap menua. Apakah kubutuh anti aging? Sepertinya iya. Namun terkendala lagi karena masih menyusui. Saat ngobrol-ngobrol di grup chat sesama ibu-ibu blogger yang kebetulan profesinya sebagai beauty blogger, mereka gak menyarankan penggunaan anti aging untuk ibu menyusui karena kandungan dari bahan skincare itu belum tentu aman bagi si bayi yang minum ASI. Galau lagi sejenak. Yang tadinya siap jajan skincare dan mau coba-coba anti aging, batal karena khawatir ASI jadi ngaruh ke bayi. Pilihan jadi jatuh ke skincare yang menghidrasi saja dan sampai saat ini masih dalam pencarian saya.

Apakah ini pembenaran atas sebuah alasan  kalo  full time mom wajar gak sempat perawatan  ? Anggap sajalah begitu. Kita tak pernah bisa memaksakan orang berempati pada kita kan? Karena kita pun belum tentu bisa menempatkan diri di posisi orang yang punya masalah yang beda dengan kita.

Jadi keingat postingan foto terakhir kemarin di status WA , saya bilang begini di caption, “Duh, udah ibu-ibu banget aku ya…bla bla..” karena jarang foto bareng teman lagi. Dan si kakak nyahut di WA  “Ah, gak lah. Kakak aja yang 40 santai aja.” “Tenang, teknologi sekarang udah canggih kok. Kerut juga bisa hilang.”. Salut padamu Kak yang bisa tersenyum happy menjelang 40. Aku harus belajar, hehee.

Tahu kn kemarin lagi heboh orang bikin tantangan #10yearschallenge, semua orang  berlomba-lomba memposting fotonya 10 tahun lalu dan yang sekarang. Gimana dengan saya? Sudah pasti gak ikutan dong. Selain karena gak punya foto 10 tahun lalu, yup banyak foto yang disimpan di hp lama hilang, sedangkan foto yang sekarang juga males. Ya itu tadi gak pede.Cuma pede foto bareng anak aja, kalau sendiri lebih baik tidak. Namun, seorang dokter langganan saya di klinik bikin status whatapp yang bikin jleb banget.

Bunyinya kira-kira begini, “Tidak perlu khawatir dengan perubahan tampilan fisikmu 10 tahun yang lalu dengan sekarang. Yang perlu kau khawatirkan adalah kualitas ibadahmu. Apakah sama saja 10 tahun yang lalu dengan yang sekarang?”

Menusuk hingga ulu hati gak sih. Menjadi tua itu sudah pasti, tak bisa diubah. Yang bisa kita lakukan cuma memperlambat prosesnya. Namun poin pentingnya adalah selama 10 tahun diberi kehidupan oleh Allah, sudahkah kita memperbaiki hubungan kita dengan Sang Pencipta? Lebih dekat atau malah semakin menjauh?

Menuju 30. Kadang suka berfikir, harusnya semakin tua usia, harusnya hidup lebih baik, hidup lebih berkualitas. Bukan hanya soal kecemasan akan kecantikan fisik yang semakin memudar, menopause, dan proses alamiah lainnya ini. Lebih dari itu, kita harusnya mampu memberi manfaat untuk lingkungan sekitar kita, selain itu memperbaiki kualitas hubungan dengan pasangan yang mungkin kurang ‘hangat’ seperti sebelum punya anak. Banyak-banyak  ngobrol dengan pasangan selagi bisa, jauhi gadget saat berdua, menikmati momen berdua meski dengan cara sederhana. karena apa? Ketika kita sudah manula nanti, anak-anak sudah besar dan berkeluarga, kita akan kembali ke pasangan kita. Kembali berdua. Jadilah teman ngobrol yang asik untuk suami/istri.

Ngobrol dengan pasangan itu penting
Sumber foto : pexels.com

Begitu pun hubungan dengan orang tua. Sering-seringlah telepon mereka, terutama ibu. Karena ketika kita tua nnti, kitapun akan merindukan kabar anak kita yang mungkin sudah merantau jauh entah kemana. Sebuah telepon sudah cukup membuat mereka bahagia bahwa kita masih mengingat mereka. Sayapun saat ini berusaha lebih sering telepon mama saya, berusaha mengurangi konflik seperti ketika remaja dulu, saat ego masa muda memuncak. Peran saya sebagai ibu juga membuat saya paham perasaan mama saya, kecemasan, ketakutan, kesedihan, kelelahan , dan rasa bahagia ketika mengasuh buah hati.

sumber foto : pexels.com

Menuju 30. Kesehatan mulai menurun. Setiap pagi selalu bersin-bersin. Gampang banget flu. Sering kedinginan. Mudah capek. Asam lambung tinggi plus pinggang mudah pegal kalau menggendong bayi seharian. Benar-benar harus segera menyembuhkan diri secara alami. Atas saran seorang rekan yang juga terapis, saya harus konsumsi sari kurma rutin dan perbanyak minum air putih. Baik, saya coba kembali merutinkan sari kurma dan minum air cukup agar tak dehidrasi.

Tulisan ini menjadi sebuah renungan akan perjalanan hidup yang saya lewati sampai menjelang 30 tahun. Sudahkah saya bermanfaat setidaknya untuk keluarga kecil saya? Mampukah saya membersamai hari-hari si kecil dengan momen bahagia, mengajarkannya nilai-nilai kebaikan? Sudahkah saya membahagiakan orangtua? Ini adalah peer saya untuk lebih baik ke depan.

Sumber foto : pexels.com

 

 

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *