Menyapih Si Kecil Dengan Metode Weaning With Love ( WWL)

Banyak orang bilang kalo menyusui itu butuh perjuangan namun menyapih ternyata jauh lebih berat. Dan memang benar adanya! Meskipun saya udah banyak baca teori tentang menyapih, baik dari artikel, buku, media sosial sampai ikutan kulwap tentang menyapih, tetap saja memulainya tidak semudah itu! Memang salah saya juga menunda proses menyapih ini karena gak tega. Sounding terus saya lakukan menjelang 2 tahun namun memang masih setengah hati dan gak rutin jadi ya hasilnya gak maksimal. Baru pada usia si kecil 2 tahun 6 bulan saya memantapkan hati untuk mulai menyapih dengan metode weaning with love (WWL). Saya dan ayahnya sepakat untuk tidak menggunakan cara-cara lama seperti memberikan/mengoleskan sesuatu yang tidak enak di payudara atau berbohong agar anak berhenti menyusui karena kami khawatir akan membuat anak trauma. Memang mungkin cara lama ini bisa cepat berhasil namun mngkin akan menyakitkan hati anak dan malah menghancurkan kepercayaan anak terhadap orangtuanya.

Dan saya gak nyangka, proses weaning with love ini akan berhasil dalam waktu kurang dari seminggu saja. Saya fikir ini juga berkah dari kebijakan #dirumahaja dan #workfromhome sejak covid 19 merebak sehingga saya bisa menjalani proses menyapih ini tidak sendirian. Peran suami dalam mendukung proses menyapih sangatlah penting. Saat anak mulai minta nen, maka Ayah bertugas mengalihkan perhatian si kecil dengan mengajak bermain sehingga si kecil lupa untuk nen. Ingat banget, 3 hari pertama menyapih benar-benar tantangan. Setiap si kecil minta nen, saya dan suami katakan “Kamu sudah besar ya, sudah 2 tahun 6 bulan. Perintah Allah menyusui itu sampai dua tahun saja. Bunda udah kasih bonus 6 bulan. Sekarang sudah cukup nennya ya. Kalau Shadiq haus, minumnya air putih ya.” Dari awalnya dia ngamuk tantrum sambil guling-guling karena keinginannya gak dituruti, akhirnya dia mau mengerti. Saya takjub banget dia masih mencari-cari celah untuk minta nen tapi dengan cara yang sopan. “Gendong boleh, Bun?” “Boleh”. “Nen boleh, Yah?” “Tidak boleh”, kata ayahnya dengan tegas. Dia pun menurut. Saya gendong dia sambil usap-usap punggungnya dengan lembut sambil bilang, “Anak bunda pasti bisa. Anak bunda anak yang kuat. Ikhlas ya nak, kita harus sama-sama ikhlas melepas nen nya ya. Bunda sayang sama Shadiq.” Lalu saya bacakan surah pendek Juz Amma dan Alfatihah sampai dia tertidur. Sejujurnya hati saya pedih sekali namun coba saya redam dan berusaha menenangkan diri. Dalam hati seraya menggendongnya, “Ya Allah, ikhlaskan hati anak saya untuk berhenti menyusui. Besarkan hatinya, lapangkan dadanya agar ia menyadari bahwa ia sudah harus berhenti menyusui. Mudahkanlah proses menyapih ini Ya Allah..Hasbunallah wa ni’mal wakiil…,”

Di hari pertama, Shadiq berhasil tidak nen sepanjang hari, namun pukul 04.00 dini hari ia menangis sedih sekali, dan ayahnya sudah kelelahan menggendong semalaman dan bilang “Ayah ngantuk kali bun. Terserah Bunda, mau kasih atau gak ya.. pilihan ada di bunda.”. Saya yang juga kelelahan akhirnya gak tega dan menyusui dia. Kelihatan sekali dia bahagia sekali saat dikasi nen dan sekejap tidur pulas sampai pagi jam 7. Saya pikir ini masih hari pertama, gak papalah yang penting frekuensinya sudah sangat berkurang, hanya sekali. Dan hari kedua, kami benar-benar harus tegas. Sepanjang malam kami bergantian menggendongnya saat ia bangun dan merengek minta nen. Dan berhasil ia tidak nen sampai pagi. Memang capek sekali dan pegal, juga waktu tidur berkurang namun ini demi kebaikan si kecil. Di hari ketiga, Alhamdulilah proses menyapih semakin mudah. Sepanjang pagi hingga malam ia sudah tidak nen lagi. Kami pun mensoundingnya untuk tidur tanpa digendong. Kalau tidur harus di tempat tidur dan diapun mau namun tidurnya harus dipeluk Bundanya. Sayapun mengiyakan. Ternyata kunci menyapih dengan cinta ini adalah KONSISTEN. Memang harus tegas dan tidak boleh baper. Karena itu butuh peran ayah yang tegas disaat hati ibu mulai melemah dan tidak tega.

Ini adalah tips menyapih dengan cinta yang saya terapkan untuk si kecil:

1. Menyapihlah saat kondisi ibu dan anak dalam keadaan sehat. Ibu harus ikhlas terlebih dahulu sebelum menyapih.
2. Siapkan selalu air putih di dekat tempat tidur, sehingga kapan saja si kecil terbangun dan minta nen, berikan ia air putih.
3. Sering-seringlah memeluk dan menciumnya agar ia tidak merasa diabaikan dan dilupakan ketika disapih.
4. Selalu sounding dengan tutur kata yang lembut namun tegas bahwa ia sudah harus berhenti nenen dan harus terus diulang-ulang.
5. Ganti aktifitas menyusui dengan mengajak anak bermain sehingga ia lupa untuk nen. Selalu libatkan suami dalam proses menyapih ini seperti mengajak bermain dan gantian menggendong saat si kecil rewel minta nen.
6. Usahakan selalu perut sudah kenyang
ketika malam sehingga ia bisa tidur nyenyak. Sediakan selalu cemilan sehat seperti buah, roti atau biskuit untuk si kecil karena sejak disapih ia jadi lahap sekali makannya. Kalo bisa cemilan homemade ya moms. Cukup yang sederhana saja tapi disukai si kecil seperti perkedel kentang, bubur kacang hijau dan sebagainya.
7. Usahakan makan teratur 3x sehari plus cemilan sehat 2x dalam sehari. Karena kalo lagi menyapih, bawaannya lapar terus. Sarapan juga gak boleh dilewatkan. Pengganti Asi tidak harus sufor atau UHT, kalau makannya teratur dan penuh gizi, tidak perlu susu. Saya hanya memberikan si kecil susu UHT 2 kotak kecil perhari maksimal 500 ml sebagai selingan.
6. Berdoa pada Allah semoga proses menyapih ini dimudahkan.
Saya percaya menyusui dimulai dengan cinta maka diakhiri dengan cinta pula. Memang butuh proses dan tekad yg kuat. Tak ada yang instan dalam pengasuhan anak, kita yang mesti sabar melalui prosesnya dan yakin ini akan berhasil. Semoga artikel bermanfaat ya. Buat para ibu yang sedang berjuang menyapih semoga dimudahkan Allah. Selamat menyapih dengan cinta ya!