Sharing is caring!

 

Cerita ini hanya sekedar sharing pengalaman aja ya buibu, tidak bermaksud mengeluh atau menyalahkan salah satu pihak. Ngomong-ngomong soal tantangan menyusui , dari mulai awal lahiran sampai hampir si bayi 6 bulan tetap selalu ada😄.  Tantangan menyusui setiap ibu itu beda-beda dan beneran gak mudah melewati itu semua. Dari mulai drama puting lecet dan perih akibat pelekatan yang kurang efektif, juga perut yang masih nyut-nyutan pasca operasi namun tetap keras kepala pengen nyusuin langsung (takut si bayi bingung puting kalo langsung dikasih botol), terasa banget setiap habis nyusuin, perut berkontraksi. Serba salah banget, mau nyusuin sambil berbaring miring, duh sakitnya minta ampun karena bekas jahitan belum kering. Akhirnya saya lebih sering menyusui sambil duduk di sofa sementara si bayi nen diatas bantal menyusui supaya perut saya gak tertekan. Kadang-kadang saya ketiduran dengan posisi menyusui sambil duduk, kalo dipikir-pikir bahaya juga, bisa-bisa si bayi jatuh,namun ajaibnya si bayi tetap anteng saja di atas bantal dan pelukan tangan saya tetap erat meski sambil tidur!

Mengenai puting lecet dan perih gak usah ditanya sakitnya. Udah nyediain nipple cream jauh-jauh hari sebelum lahiran, namun saat hari H nya, belum sembuh lukanya udah harus nyusuin lagi😅 karena bayi newborn menyusu 2-3 jam sekali. Walaupun udah tahu teorinya, namun kenyataan di lapangan gak semudah bayangan. Sebelum menyusui harus dikompres hangat terlebih dahulu agar peredaran darah di payudara lancar dan ASI pun lancar, namun kenyataannya buat ngompres pun kadang males banget, haha, karena rasa ngantuk dan lelah lebih mendominasi.

Menyusui membutuhkan tekad sekuat baja. Menghadapi nyinyiran dari orang-orang sekitar, bisa jadi itu bahkan dari keluarga terdekat. Kalau tetangga, ya sudahlah gak perlu dipikirin, anggap aja belum teredukasi. Nah, kalau keluarga terdekat yang nyinyir, sakitnya tuh disini!

Banyak yang meragukan bahwa ASI saya akan mencukupi untuk si bayi karena postur tubuh dan berat badan saya kecil dan kurus.

Saat hamil pun cuma naik 10 kg saja dan saat habis lahiran berat badan sudah kembali. Padahal tidak ada hubungannya antara postur tubuh dengan banyaknya ASI. Kuncinya cuma satu : stimulus sejak dini. Caranya: room in dengan bayi sejak hari pertama kelahiran, bukan membiarkan bayi tidur terpisah dengan ibu. Biarkan si bayi menghisap payudara ibu sesering mungkin, tak peduli apakah ASI akan keluar atau tidak. Hisapan bayi adalah pompa ASI terbaik dan saya sudah merasakannya. Banyak tidaknya ASI tidaklah begitu penting di hari pertama dan kedua pasca lahiran karena toh kebutuhan ASI masih sangat sedikit, lambungnya pun hanya sebesar kelereng. Namun, ya itu tadi percuma juga jelasin panjang lebar, kalau toh kebanyakan orang hanya mau berkomentar, bukannya mau membantu atau sekedar mengerti.

Tantangan menyusui pun semakin meningkat seiring usia bayi bertambah. Shadiq lebih suka disusuin dengan posisi sambil berdiri sembari badannya diayun-ayun, sembari diayun dalam gendongan saya nyanyikan lagu-lagu shalawat atau saya bacakan surah-surah pendek Alquran. Aneh memang, tapi begitulah cara membuatnya nyaman dan tertidur pulas. Kesulitannya adalah kalau menyusui di tempat selain rumah misalnya, tentu agak repot menyusui sambil berdiri apalagi berat badan Shadiq semakin bertambah. Syukurnya Shadiq seakan ‘mengerti’ dan cukup fleksibel saat menyusui. Menyusui sambil berdiri dam diayun ayun hanya dilakukan di dalam rumah, jika hanya ada ayahnya dan keluarga dekat saja, namun jika di tempat umum seperti restoran atau di dalam mobil, ia mau menyusu sambil duduk.

 

Nah, saat ini tantangan berikutnya adalah menyusui di tempat umum, ada saat dimana saya merasa tidak nyaman menyusui di sebuah restoran, ntah karena suasana terlalu ramai dan berisik, juga tempat duduknya tidak nyaman untuk menyusui. Shadiq pun akan ikut gelisah saat saya susui dan saya pun kesulitan mencari posisi nyaman untuk menyusui yang tidak terlihat orang lain. Untuk memakai apron, saya kurang suka, Shadiq sudah pintar membuka dan menarik jilbab serta menarik-narik baju saya saat disusui, kadang-kadang dapat bonus dicakar PD saya, tangannya lasak nian si anak lanang ini😂. Kalau begitu solusinya ya buru-buru cari ruangan nursing room. Meskipun ada beberapa tempat umum yang sudah menyediakan ruang laktasi atau ruang menyusui, namun tak semuanya nyaman. Pernah sih saya menyusui di sebuah pusat perbelanjaan yang cukup besar dan terkenal, namun ruang menyusuinya sangat kecil dan sempit, juga sangat panas dan tertutup namun tak menyediakan AC. Shadiq gelisah tak mau menyusu, saya mencium bau tak sedap, ternyata eh ternyata di samping saya ada tong sampah plastik tanpa tutup yang isinya popok kotor. Masya Allah, saya rasa sudah ga worth it, saya pun keluar dan memutuskan menyusui di dalam kendaraan saja. Saya juga pernah kok menemukan ruang menyusui yang cukup nyaman, letaknya didalam sebuah toko bayi yang cukup besar. Ruang menyusuinya bersih, tersedia wastafel dan sabun cuci tangan, changing table untuk mengganti popok bayi, kursi menyusui yang nyaman, dan air minum serta tisu bersih. Wah, asyik ya, saya pun jadi betah belanja disitu, walaupun barang-barang yang saya cari sering tidak ada dan barang di sana di atas harga rata-rata, namun tetap aja ke sana karena ada ruang laktasi tadi. Kalau Shadiq haus dan rewel, saya tinggal ke ruang laktasi. Selebihnya kurang tau sih tempat umum di Medan yang menyediakan  ruangan laktasi.Kalau ada lagi, ntar saya review deh, hehe.

Dan… tantangan menyusui yang terakhir , yang saat ini sedang saya hadapi adalah Shadiq hanya mau menyusu di sebelah kiri saja. Sejak kapan? Sejak usianya 4 bulan. Dari lahir sampai 3 bulan, ia mau menyusu di kedua payudara. Namun, entah mengapa saat ini dia menolak menyusu di kanan. Sudah kami coba berbagai cara, dengan membujuknya, melakukan sounding terus menerus, mencoba posisi menyusui selain craddle hold. Awalnya ia mau dengan posisi rugby hold, namun hanya sebentar ia sudah tak mau lagi. Saya pun terus mencari informasi mengenai hal ini, dan hasilnya sungguh melegakan karena meskipun hanya satu payudara, bayi tetap dapat asupan ASI yang cukup, namun sebaiknya payudara yang jarang disusukan harus tetap dipompa agar seimbang dan tidak kering. Mengenai ukuran payudara yang besar sebelah, juga akan kembali normal saat bayi sudah tidak menyusu lagi. Meskipun demikian, kami berencana untuk menemu konselor laktasi agar menemukan solusinya, mengingat saya sekarang jarang memompa ASI. Kenapa jarang? Sungguh tidak mudah memompa ASI dengan kondisi full 24 jam bersama si bayi. Saat saya baru saja mulai memompa, maka disitu Shadiq bangun dan rewel. Benar-benar harus tengah malam, saya memompa saat Shadiq tidur nyenyak, bisa sampai jam 3 pagi saya masih memompa sambil terkantuk kantuk. Seperti yang saya bilang, menyusuilah dengan keras kepala. Apapun tantangannya, Insha Allah ada jalan keluar. Sebentar lagi Shadiq lulus S1 ASI (6 bulan asi eksklusif). Harapan saya tetap bisa menyusuinya hingga dua tahun. Ada yang punya pengalaman seputar menyusui juga? Share yuk di kolom komen!

Sharing is caring!