Tentang Doa

Percakapan ringan dengan suami beberapa waktu lalu.

“Beberapa tahun ke depan kita bisa punya rumah sendiri gak, ya?” tanyaku pada suami.

“Bisa. Berdoa kalau gitu.”

“Berdoa?”

“Iya. Berdoa berarti kita yakin pada kekuasaan Allah. Jangan takut, Allah aja Maha Kaya.”

“Usahanya gimana?”

“Ya, tetap. Asah skill, terus cari peluang-peluang bisnis yang bisa mendatangkan uang yang bisa kita tabung. Namun, tetap doa adalah hal yang utama. ”

“Kenapa?”

“Terkadang kita suka salah menempatkan doa. Doa sering dijadikan senjata terakhir dalam menyelesaikan masalah. Seolah-olah saat manusia merasa sudah sangat buntu dan putus asa, baru ingat akan doa. Seharusnya doa itu malah menjadi senjata utama. Sama dengan konsep bersyukur. Harusnya bersyukur dulu, baru kemudian dikabulkan keinginannya, bukannya malah sebaliknya.” Suamiku tersenyum.

Saya tertegun. Merenung. Mencoba memaknai ucapan suami saya. Dari sepenggal obrolan kami, terselip akan hakikat doa yang kadang terlupakan.Doa harusnya menjadi kekuatan utama manusia dalam menghadapi segala masalah, kekuatan manusia meraih semua mimpi menjadi kenyataan. Tentunya diiringi dengan usaha yang konsisten. Bismillah, semoga menjadi pembelajaran untuk saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *