Tentang Makna Belajar

Apa yang terlintas di benakmu mendengar kata belajar? Dulu saya selalu berpikir bahwa belajar itu ya di sekolah, belajar itu harus ya duduk sambil mengerjakan soal-soal yang rumit, baca buku terus menulis ulang catatan pelajaran, lalu bikin peer habis pulang sekolah. Memang itu juga bagian dari belajar, namun jika kita hanya memaknai belajar harus didalam sebuah ruangan, bersifat formal dan berdasarkan kurikulum belajar, tentulah mnjadi makna yang sempit.

Yuk, kita baca definisi belajar menuru maxmonroe.com :

Pengertian belajar adalah suatu proses atau upaya yang dilakukan setiap individu untuk mendapatkan perubahan tingkah laku, baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai positif sebagai suatu pengalaman dari berbagai materi yang telah dipelajari.

Definisi belajar dapat juga diartikan sebagai segala aktivitas psikis yang dilakukan oleh setiap individu sehingga tingkah lakunya berbeda antara sebelum dan sesudah belajar. Perubahan tingkah laku atau tanggapan karena adanya pengalaman baru, memiliki kepandaian/ ilmu setelah belajar, dan aktivitas berlatih.

Dari definisi diatas bisa dilihat bahwa belajar itu sebuah PROSES bukan HASIL, tentu dalam proses itu wajar jika terjadi kesalahan ataupun kegagalan. Proses dalam belajar berarti secara perlahan dan bertahap, tidak serta merta didapat secara instan. Belajar juga dikatakan berhasil jika ada PERUBAHAN pada tingkah laku atau RESPON karena adanya pengalaman dan aktifitas baru. Nah, jadi coba deh dikaji selama ini kita sudah benar-benar belajar belum? Apakah belajar di sekolah langsung membuat kita bijak berperilaku? Belum tentu. Apakah proses belajar yg kita yakini selama ini membawa perubahan positif dalam hidup? Jika belum, berarti ada yang salah dalam memaknai proses belajar.

Belajar bukan hanya semata-mata bidang akademis saja. Bukan permasalahan meraih nilai tertinggi di kelas. Nilai itu penting namun bukanlah segalanya. Belajar itu berarti kita mampu memaknai setiap proses perjalanan hidup kita menjadi lebih berarti, membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik dari seelumnya dan membuat diri kita bermanfaat bagi orang banyak. Belajar bukan semata-mata meraih gelar saja, namun dengan belajar kita mampu memecahkan berbagai persoalan hidup dan mampu bertahan dalam kondisi sesulit apapun. Itulah life long learning atau pembelajaran seumur hidup. Banyak kan kita lihat orang yang pintar dan jenius sekali namun hidupnya berakhir tragis dengan bunuh diri? Karena dia tidak sanggup menjadikan masalah hidupnya sebuah pembelajaran agar tetap survive.

Belajar itu maknanya benar-benar luas. Dengan pemahaman ini pula, saya tak pernah memaksakan si kecil harus bisa calistung atau baca tulis hitung sejak kecil. Saya ingin menumbuhkan kecintaan belajarnya terlebih dahulu. Saya ingin fitrah belajarnya tumbuh subur dengan indahnya tanpa harus dicekoki berbagai mata pelajaran atau les ini itu yang belum tentu cocok untuknya. Di usianya yang masih sangat dini, saya biarkan ia bebas untuk bertanya apa saja yang ia anggap menarik. Saya belikan ia buku-buku yang sesuai usianya. Saya ajak ia mengenal alam lebih dekat, mengajaknya bermain di taman, membiarkan ia main air , melihat kupu-kupu daa serangga lainnya, juga melihat dan merasakan titik-titik air hujan, mengajak ia ke pasar tradisional setiap saya belanja, membiarkan ia melihat dan menyentuh buah dan sayur yang ia makan setiap hari, membiarkan ia berlari dan melompat, mengajaknya berjalan-jalan menggunakan transportasi umum, bersepeda dll. Ia menikmati semua itu tanpa ia menyadari bahwa iapun sedang belajar. Saya ingin ia memahami bahwa semua tempat adalah sekolah, semua orang adalah guru dan semua kejadian/peristiwa adalah pembelajaran. Setiap dia jatuh dan menangis, saya selalu bilang, “Jatuh itu tidak apa-apa. Boleh kok menangis, asalkan setelah itu kita bangkit dan bersemangat lagi.” Atau saat dia kesal karena tersandung sesuatu atau terluka, saya tak pernah menyalahkan benda mati, namun saya bilang, “Itu benda mati, gak bersalah. Kita yang manusia dianugerahi otak untuk berpikir, karena itu kita harus lebih berhati-hati.”

Makna belajar ini membuat saya merasa “baru” setiap hari. Meski dengan profesi stay at home mom, saya tetap bisa belajar dimana saja, dengan siapa saja dan kapan saja. Saya mengikuti kulwapp tentang parenting, saya ikuti webinar tentang kesehatan, saya ikut pelatihan menulis gratis, saya mengikuti akun-akun instagram tentang topik yang saya sukai seperti memasak, karena saya suka belajar resep baru, saya juga bergabung di komunitas, ikut kelas literasi, menulis blog, atau apa saja yang membuat saya tertarik dan membuat saya tetap happy dan ‘waras’ sebagai ibu. Belajar dari kesalahan itu juga bagian dari proses belajar. Bagaimana dengan mu? Sudahkah belajar itu mendewasakanmu? Yuk, kita maknai kembali apa itu ‘belajar’!