Tentang Perencanaan Keuangan

 

Keuangan adalah topik yang cukup sensitif dalam rumah tangga karena jika kita salah dalam mengkomunikasikannya dengan pasangan maka yang terjadi malah pertengkaran. Banyak yang bilang masalah keuangan harusnya sudah dibahas sejak pasangan belum menikah, namun jujur kemarin saya malah gak tanya-tanya soal keuangan ke calon suami, tentang berapa besar gajinya dan lain-lain.

Entah kenapa saya percaya saja kalo menikah pasti pintu rezeki ikut terbuka. Kami sama-sama bekerja saat itu dan memang prinsipnya kami memulai semua dari nol. Dan saat pertama kali menerima nafkah ( gaji suami) jujur kaget karena kok lebih sedikit dari gaji yang saya terima di kantor namun saat itu mikir gak papalah toh saya juga punya gaji. Waktu itu awal-awal menikah saya blank banget soal perencanaan keuangan. Selama masih single, gaji ya habis buat jajan , jalan-jalan dan makan doang. Gak pernah mikir soal nabung apalagi investasi, duh boro-boro deh.

Akhirnya ya gitu uang suami ditambah uang saya digabung rasanya tetap aja gak bisa nabung karena ya jujur saya termasuk boros, hehe.. Sukanya go food lah, minum boba tiap bulan, beli baju dan sepatu, dan lain-lain. Sedangkan suami kebalikannya lebih hemat, walau gak terlalu terencana juga. Suami saya gak hobi ngemil, gak hobi nongkrong di cafe, belanja baju dan sepatu juga gak doyan, beli kalo udah rusak aja, segala macam minuman boba kekinian plus kopi-kopi yang lagi hits sekarang dia gak terlalu suka. Pengeluarannya yang banyak justru untuk beli buku. Kalau buku harga ratusan ribu tetap dibeli klo dia suka. Keren banget ya suami saya? Hahaaa…

Nah, sejak kelahiran si kecil jadi berpikir untuk membenahi kembali keuangan keluarga kami, apalagi saya sudah berhenti bekerja, otomatis sumber keuangan cuma berasal dari gaji suami. Awal-awal cukup berat buat saya yang hobi jajan dan ngemil, dulu pas kerja mau beli sepatu atau baju juga gak mikir-mikir karena ya udah kan itu gaj saya, namun keputusan resign murni kesepakatan kami berdua, saya pun harus bisa menerima konsekuensinya. Saya harus lebih memprioritaskan kebutuhan anak, alih-alih kebutuhn pribadi. Kami sepakat bahwa keuangan tidak sepenuhnya di tangan saya. Suami memang mentransfer uang gajinya ke rekening saya dan saya ambil kalau perlu saja, suami yang pegang ATMnya, karena kalo dia mau belanja bulanan atau beli buah/ sayur di supermarket lebih mudah. Toh saya juga bisa belanja online atau go food dari internet banking atau mobile banking, jadi gak masalah.

Dulu waktu masih tinggal di Medan, yang belanja ke pasar untuk makan sebulan malah seringnya suami karena saya kerepotan ngurus bayi newborn. Dengan modal catatan belanja, suami luwes kalo belanja di pasar, Alhmdulillah ya suami idaman, beliau gak malu tuh belanja dipasar walau harus berjibaku dengan mak-mak yang serobot sana sini, hihi… kebetulan pasarnya dekat dari rumah dan lengkap sehingga kalo belanja pagi sebelum berangkat kerja juga masih sempat. Saya pikir untuk saat itu, perencanaan keuangan yang kami lakukan masih yang terbaik, mengingat saya cukup boros jadi mending gak usah pegang uang cash saja soalnya takut khilaf🤭. Kebutuhan kami selalu cukup Alhamdulillah, namun selama beberapa tahun kami tetap gak punya tabungan atau investasi.

Ada sebuah titik balik dimana kami memutuskan untuk mulai memiliki tabungan dan investasi. Ketika Qadarullah, tahun lalu seminggu sebelum lebaran, ayah mertua meninggal dunia di kampung halaman, padahal kami sudah pesan tiket pesawat untuk mudik 3 hari sebelum lebaran. Semua dibatalkan, reschedule penerbangan dan tentu saja membutuhkn banyak biaya. Dari situ saya mulai berpikir, kami harus punya tabungan dana darurat ketika menghadapi situasi diluar kendali kami.

Tabungan dana darurat diperlukan saat situasi diluar kendali kita

Kebetulan saat itu saya sudah mulai suka baca-baca info tentang perencanaan keuangan dari IG mba Windi Teguh, seorang financial blogger dari Medan. Entah kenapa jadi tergerak untuk mulai menabung dan investasi. Terlambat sih memang tapi daripada tidak sama sekali. Saya banyak berdiskusi dengan suami soal keuangan, lebih jujur dan terbuka lagi soal keinginan dan mimpi-mimpi yang ingin diwujudkan dalam keluarga kami. Tak bisa dipungkiri bahwa perencanaan keuangan keluarga yang baik adalah salah satu kunci dari terwujudnya mimpi-mimpi kami. Saya mulai mengatur ulang catatan belanja saya, mulai menyisihkan pendapatan suami setiap bulan untuk dimasukkan ke dalam pos-pos tabungan. Jumlahnya memang tidak banyak namun konsisten dalam menabung adalah hal utama.

Ini beberapa prinsip perencanaan yang kami buat bersama:

1. Keuangan di pegang bersama

Keuangan tidak mutlak ditangan istri. Suami boleh memegang uang secukupnya untuk keperluan sehari-hari seperti uang bensin, paket internet juga untuk servis kendaraan dan lain-lain. Jadi tak perlu bolak balik minta ke istri. Saya pegang uang cash sebatas uang belanja makan sebulan, uang listrik, air dan gas, juga jasa ART untuk setrika yang sudah saya rinci saja dalam sebuah catatan sehingga bahan makanan yang dibeli tidak ada yang terbuang, saya atur menu per minggu sehingga membeli apapun juga sesuai catatan. Sisanya ada di ATM dan saya yang pegang.

Komunikasi dan keterbukaan dengan pasangan perihal keuangan sangatlah penting

2. Menabung di awal, bukan di akhir

Kesalahan yang sering kita lakukan adalah menabung di akhir bukan di awal. Yakin deh kalo kita nabung karena ada sisa uang belanja, ujungnya tak bersisa. Maka menabunglah diawal. Setelah menerima gaji, saya langsung memasukkan ke pos-pos tabungan yang sudah kami sepakti bersama. Setelah pos tabungan beres lalu langsung sisihkn untuk biaya-biaya rutin seperti uang makan sebulan, listrik, air, gas, dan lain-lain. Sisanya untuk isi gopay, ovo, jalan-jalan dan makan diluar sesekali, juga untuk pengembangan diri ( seperti ikut seminar/kulwapp berbayar, beli buku dan lain-lain) saya sesuaikan dengan budget.

Menabung di awal, bukan di akhir

3. Membeli cash, bukan kredit

Kalo selama ini kita berpikir kalo gak kredit gak bakalan bisa beli. “Kalo gak hutang, kapan bisa beli?” Nah mindset seperti itu harus diubah. Usahakan beli cash, jika belum cukup, tabung dulu. Bersabar hingga cukup. Lalu kita gak boleh kredit? Kalo kredit untuk hal produktif semisal kredit usaha dan kita mampu membayar tanpa mengganggu cashflow bulanan ya gak papa. Namun jika kredit untuk hal-hal konsumtif semisal kredit hp dan barang elektronik lebih baik dihindari, bukan saja menjadi beban namun bisa menganggu cashflow, apalagi jika kita tak punya pemasukan diluar gaji, duh jangan coba-coba kredit konsumtif deh, karena bisa-bisa kita terjebak utang dan dikejar-kejar debt collector. Naudzubillah. Jikapun ingin berhutang, ingat ya hutang tidak boleh lebih dari 10% dari pendapatan.

Menabung dulu hingga cukup lalu bayar cash

4. Membeli sesuai kebutuhan bukan keinginan

Yup, kita sering terjebak antara kebutuhan dan keinginan. Keinginan manusia itu tak terbatas apalagi jika hanya untuk memuaskan gaya hidup semata. Kitalah yang harus bisa mengontrol diri. Dulu waktu masih kerja saya bisa belanja baju setiap bulan tapi kalo sekarang, bukannya tidak ada uang, namun saya tak terlalu butuh baju formal dan sepatu formal, juga tak terlalu butuh make up yang banyak. Pengeluaran untuk beli baju/sepatu kerja bisa dialokasikan untuk yang lebih bermanfaat. Suami tak pernah melaramg saya beli baju dan keperluan pribadi yang lain namun saya selalu izin dulu sebelum membeli dan jika di acc terasa lebih lega aja ngeluarin uang. Berbelanjalah karena butuh, bukan karena emosi.

Keinginan manusia tak terbatas apalagi jika hanya memenuhi gaya hidup semata

5. Menyisisihkan pendapatan untuk berinvestasi

Sejujurnya pengetahuan sayapun masih awam banget soal investasi namun suami lebih getol belajar soal investasi karena yang saya lihat, beliau sudah mulai ikut reksadana dan investasi ke tabungan emas. Saya jadi ikutan tertarik nabung emas dan mulai konsisten menabung emas tiap bulan dan kalau ada bonus lebih saya juga cicil emas yang jika gramnya sudah mencukupi bisa dicetak menjadi emas batangan. Tabungan emas itu kelebihannya adalah nilai emas cenderung stabil dibanding mata uang kita yang setiap saat bisa turun naik, apalagi jika terkena krisis ekonomi. Saya juga belajar soal tabungan emas ini dari suami. Nyesel deh kenapa gak dari dulu aja nabung emas, pas masih single gitu. Itulah, penyesalan datangnya belakangan, kalau di depan namanya pendaftaran, hehehehe.. tapi tabungan emas buat kami adalah tabungan jangka panjang, sedangkan untuk hal darurat kami gunakan tabungan dana darurat.

Berinvestasi walau sedikit. Carilah investasi minim resiko untuk pemula.

Prinsip diatas itu gak mutlak ya terutama yang no 1. Itu bisa disesuaikan dengan kondisi keuangan keluarga masing-masing, kalau merasa lebih baik istri saja yang pegang semua keuangan, ya gak papa yang penting sudah dikomunikasikan dan jika ada pemasukan tambahan sebaiknya suami dan istri juga terbuka satu sama lain, juga masalah hutang atau kredit, suami atau istri harus tahu lo, jika terjadi apa-apa misalkan salah satu pasangn meninggal, tentu akan jadi masalah kan, karena yg menanggung hutang adalah ahli waris.

Seru ya bicara tentang perencanaan keuangan? Bicara tentang keuangan memang gak ada habisnya ya. Saya juga masih perlu banyak belajar tentang perencanaan keuangan, saya bukan ahlinya, saya hanya sekedar sharing, siapa tahu bisa bermanfaat. Bagi yang mau sharing soal perencanaan keuangan keluarga, boleh tinggalkan di kolom komentar ya..