Think Happy, Be Happy

Saya dan suami belum lama menikah, belum sampe setahun lah. Nah, kami tu bertemu dan akhirnya menikah juga melalui proses singkat. Dekat selama 3 bulan, 3 bulan kemudian merencanakan lamaran, 3 bulan kemudian menikah. Benar-benar tidak menyangka bahwa dialah yang akan menjadi suami saya sekarang, karena kami hanya bertemu pertama kali saat pertemuan sebuah komunitas pencinta buku di Medan, itupun tidak banyak mengobrol. Dan setelah itu kami hampir tidak pernah bertemu lagi selama beberapa tahun. Nah, akhirnya di tahun 2016 kami bertemu lagi karena ada project kantor yang menggunakan jasa konsultan di perusahaan suami saya. Dari situ kami mulai akrab dan intens mengenal masing-masing.

Singkat cerita , saya dan suami baru benar-benar belajar memahami karakter masing-masing ya setelah menikah. Awalnya, banyak hal yang mengagetkan dan butuh penyesuaian. Gak terlalu banyak yang berubah sih dari diri suami, dia memang baik dan penyabar dari dulu, tapi ternyata cueekkk habis. Sekarang sih udah gak cuek. Ohya? Iya,  Ntar deh pelan-pelan saya cerita cueknya gimana dan kenapa bisa berubah.

Nah, kami tu punya kebiasaan untuk ngobrol-ngobrol santai dulu malam hari sebelum bobo. Ya, resiko suami istri bekerja ya gitu, waktu untuk ngobrol gak banyak, karena pergi pagi dan pulangnya malam. Banyak hal-hal yang diomongin, dari seputar masalah sepele sampai yang serius.  Pembicaraan kemarin malam itu kami membahas persepsi bahagia dari sudut pandang kami masing-masing. Bahagia itu apa sih? Dan jawaban suami itu benar-benar gak terduga, “ Bahagia itu ya bahagia. Gak perlu pake syarat apa-apa.” Oh, begitu ya? Saya bengong. Katanya lagi, “ Kalau kita misalnya bilang bahagia karena sudah punya rumah dan mobil sendiri.

think-happy-be-happy-yunitasari-com

Nah, kalo misalnya di usia kita yang sudah tua baru memiliki rumah dan mobil, berarti tahun-tahun yang kita lewati tanpa rumah dan mobil,  kita gak bahagia donk. Kan rugi.” Intinya, kenapa musti nunda-nunda untuk bahagia. Bahagia itu bukan karena kita punya uang atau gak, bukan karena kita sudah punya ini itu. Karena sejatinya bahagia itu bersumber dari dalam diri, bukan berpatokan pada  benda-benda dan hal-hal materilistik lainnya. Jadi malam itu saya kelihatannya santai dan tenang aja, padahal di dalam hati itu kata-kata daleemmmm banget. Merasuk ke dalam jiwa, kira-kira begitulah. Biasa lah kalo ibu-ibu pengen ini-itu (Belum ibuk-ibuk juga sih, secara saya belum punya bayi),  baru ngerasa happy. Seringnya bilang, “Sayang, sepatunya udah nyampe nih. Adek seneng…banget.” atau “ Bajunya bagus ya. Gak nyesel online disini. Happy…..,” dll. Dan sejak percakapan hari itu, saya memutuskan untuk mengubah makna “bahagia”. Yes, i am happy, now, tommorow, and forever!