Welcome to the World My Baby Boy

Momen persalinan adalah hal yang paling dinantikan bagi setiap wanita, begitupun saya. Semua penantian, pengharapan dan doa selama masa kehamilan akhirnya terbayar sudah dengan kehadiran malaikat kecil di keluarga kami. Tepat pada tanggal 22 september 2017 pukul 08.30 wib, jagoan kecil kami lahir lewat operasi sesar dengan berat 2,82 kg dan panjang 47 cm. Setiap momen pertama selalu berkesan, karena ini adalah anak pertama saya, maka begitu banyak hal-hal menakjubkan dan mungkin juga diluar ekspektasi saya. Momen pertama bagi saya adalah masuk kamar operasi..Gimana rasanya? Deg degan, khawatir, takut, juga perasaan gak sabar ingin melihat dedek bayi campur aduk jadi satu. Mungkin ada benarnya, sungguh belum bisa merasakan perjuangan seorang ibu jika belum jadi ibu.

Persiapan fisik dan mental menjalani persalinan baik normal atau sesar memang sangat penting untuk mengurangi rasa cemas. Berbekal pengetahuan yang saya dapat dari berbagai media baik buku-buku kehamilan dan persalinan, media sosial, artikel kesehatan juga baca-baca cerita para blogger, bertanya kepada orang-orang yang sudah berpengalaman, mengikuti seminar kehamilan dan lain-lain

membuat saya sedikit banyak sudah tahu prosedur apa yang harus dijalani terutama sesar. Ya, saya memang akhirnya memilih jalan operasi sesar dengan beberapa pertimbangan medis dan saran dokter. Jadi saya sudah tidak terlalu kaget dengan apa yang akan saya lalui, harus berpuasa sebelum operasi, cek darah, harus berkali-kali disuntik, baik suntik alergi maupun disuntik di tulang ekor saat melakukan pembiusan spinal dan bersiap dengan nyeri pasca persalinan sesar yang (katanya) sakitnya luar biasa setelah bius habis.

Hanya saja yang membuat saya tegang, saya baru pertama kali merasakan kedinginan yang amat sangat di ruang operasi hingga gemetar tak terkendali. Saya menggigil sembari terus bershalawat dan berdoa memohon keselamatan. Rasanya lama sekali selesai padahal hanya memakan waktu 15 menit untuk mengeluarkan bayi dan menjahit kembali dengan kira-kira totalnya 45 menit. Saat tangisan bayi terdengar, tak hentinya saya mengucap syukur pada Allah. Saya pun menangis terharu saat pertama kali melihat bayi saya diletakkan di dada pasca operasi​.

Kalo ditanya bagaimana rasanya operasi sesar dan apakah sakit, tentu persepsi setiap orang berbeda ya.. Kalau saya sih, selama dioperasi tidak merasakan sakit apapun karena telah dibius, hanya saja saya masih tetap sadar dan merasakan saat bulu kemaluan (maaf) dicukur dan dirapikan tenaga medis, dimasukkan selang kateter yang lumayan dalam (gak ngebayangin rasanya kalo dimasukin kateter saat belum dibius pasti amboy sakitnya, hehe). Saya pun tetap merasakan gerakan-gerakan di perut, perut saya digunting, diguncang-guncang saat mengeluarkan bayi dan dijahit kembali namun tanpa rasa nyeri. Saya juga masih mendengar suara-suara tim dokter bedah di ruangan itu, sekilas saya mendengar darah saya banyak sekali dan sebaiknya bajunya diganti, lalu suara-suara musik untuk mengurangi suasana tegang.

Mungkin yang membuat saya berfikir ulang untuk memiliki anak dalam waktu dekat adalah nyeri pasca operasi. Hhmm susah dilukiskan dengan kata-kata. Amazing lah pokoknya, meski sudah diberi pain killer dan suntikan tetap saja masih kerasa ya buibu..haha. Anestesi spinal hanya mampu bertahan kira-kira 3-4jam pasca operasi. Setelah itu hanya diberikan pain killer melalui infus dan obat oral.

Hari pertama pasca operasi saya dilarang bergerak, mengangkat kepala saja tidak boleh sampai besok pagi, tidak boleh minum sampai buang angin dan tidak boleh makan apapun padahal sumpah saya laper dan haus banget. Disitulah peran suami sangat dibutuhkan untuk menguatkan si ibu baru yg galau. Galau? Ya, galau menjalani peran barunya. Merasa takut, cemas, sedih, marah, adalah hal wajar namun jangan sampai baby blues berkepanjangan.

Beruntung saya memiliki suami yang sangat mendukung saya menjalani fase pemulihan pasca operasi. Dari menjaga saya di rumah sakit, mendengarkan keluh kesah saya, menyuapi saya, membantu saya bergerak dan berjalan lagi, membantu dan menyemangati saya untuk menyusui pertama kali, bahkan memandikan saya. Momen momen itu membuat saya dan suami semakin menyayangi dan menguatkan satu sama lain.

Betapa penting peran suami bagi saya melewati fase-fase penyembuhan yang boleh dibilang cukup berat dan menyakitkan, namun karena kehadirannya saya merasa lebih kuat dan tenang.

Alhamdulillah, saya kini sudah menjadi ibu. Ini adalah awal, dan masih banyak perjalanan yang harus dilewati untuk mengurus dan merawat bayi ini. Melihat bayi mungil berambut lebat dan berwajah persis ayahnya ini membuat segala rasa nyeri sirna.Bayi tampan yang diberi nama oleh Ayahnya : “Shadiq Alfatih Agusri” yang berarti kejujuran dan membawa kemenangan. Welcome to the world my baby boy! Inilah secuil catatan kisah kelahiranmu. Semoga kelak saat engkau dewasa, bisa membaca kembali tulisan Bunda dan mengerti engkau adalah amanah terindah dari Allah SWT yang sangat Bunda sayangi. Semoga pula kehadiranmu menjadi penyejuk hati orang tuamu. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *